Pengelolaan sampah berbasis komunitas di Desa Nangerang, Kecamatan Wanayasa, terus menunjukkan geliat positif. Selama dua tahun berjalan, tim yang diinisiasi oleh Asep Saepul bersama para pemuda setempat telah berhasil merangkul sedikitnya 200 Kepala Keluarga (KK) untuk terlibat aktif dalam sistem manajemen limbah domestik yang mandiri.
Bergerak dengan semangat swadaya, tim ini tidak hanya mengangkut sampah, namun juga melakukan pemilahan yang berorientasi pada kemanfaatan lingkungan dan ekonomi. Sampah organik yang dikumpulkan diolah sedemikian rupa hingga menjadi pupuk alami yang bermanfaat bagi kesuburan tanah di sekitar pemukiman.

Pemanfaatan pupuk organik hasil olahan sampah pemuda Nangerang pada tanaman cabai di lingkungan sekitar.
Sementara itu, untuk sampah non-organik atau sampah kering, tim mengarahkannya ke sektor ekonomi sirkular. Sampah-sampah yang memiliki nilai jual dikumpulkan dan ditukarkan ke pengepul rongsok. Hasil penjualan tersebut digunakan untuk mendukung biaya waktu operasional yang hingga kini masih dikelola secara mandiri tanpa ketergantungan penuh pada pihak luar.
Meski telah menunjukkan hasil nyata bagi 200 KK, langkah tim “Sapu Bersih” ini bukan tanpa hambatan. Asep Saepul mengakui bahwa kendala utama yang menghadang saat ini adalah keterbatasan tenaga lapangan serta aspek permodalan.
“Kendala kami saat ini sedang kekurangan tenaga pengelola. Semua masih dikelola secara mandiri, sehingga mencakup perlunya tenaga ekstra,” ungkap Asep.
Lebih lanjut, ia memaparkan rencana pengembangan inovasi yang masih tertahan. Tim sebenarnya memiliki visi untuk mengolah sampah organik secara lebih profesional menggunakan metode budidaya maggot. Metode ini dikenal sangat efektif dalam mengurai limbah organik sekaligus memiliki nilai jual tinggi sebagai pakan ternak.
“Kami mempunyai keinginan untuk mengembangkan pengolahan organik menjadi maggot, namun saat ini kendalanya masih pada modal usaha. Jika ada dukungan modal, output ekonominya tentu akan jauh lebih besar bagi tim dan desa,” tambahnya.
Kehadiran tempat pengolahan sampah sederhana di Desa Nangerang menjadi bukti bahwa keresahan warga dapat dijawab dengan kreativitas. Ke depannya, tim berharap ada sinergi yang lebih kuat, baik dari sisi penambahan personel maupun dukungan investasi alat dan modal, agar efisiensi pengolahan sampah organik dan non-organik dapat terus ditingkatkan demi lingkungan Wanayasa yang lebih bersih.
Berita Dari Desa | Membangun Kampung Halaman


