Kabar Akar & Budaya

Poe Lilikuran: Merawat Tradisi, Menjemput Keberkahan Lailatul Qadar di Tanah Pasundan

Siluet seorang jemaah yang sedang beri'tikaf di koridor masjid. Di saat pintu dunia tertutup, pintu langit terbuka lebar bagi mereka yang mencari jawaban dalam kesunyian ibadah.

Jawa Barat, daridesa.com – Memasuki sepuluh malam terakhir di bulan suci Ramadan, masyarakat Jawa Barat kembali menghidupkan tradisi turun-temurun yang sarat akan makna spiritual dan sosial, yakni Poe Lilikuran. Tradisi ini bukan sekadar penanda hitungan hari menuju Idulfitri, melainkan simbol keteguhan ibadah dan kemuliaan berbagi di malam-malam ganjil.

Secara harfiah, “Poe” berarti hari, sementara “Lilikuran” merujuk pada rentang sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, dimulai dari malam ke-21 (selikur) hingga malam-malam ganjil berikutnya. Di tengah hiruk-pikuk persiapan Lebaran, masyarakat di berbagai pelosok desa di Jawa Barat justru memperketat saf di masjid dan mempererat silaturahmi melalui derma pangan.

Spirit Berbagi dan Ibadah Kolektif
Salah satu ciri khas yang paling melekat dalam Poe Lilikuran adalah tradisi membuat dan membagikan makanan. Warga secara sukarela memasak hidangan terbaik mereka untuk dibagikan kepada tetangga, kerabat, hingga jemaah masjid yang sedang melaksanakan iktikaf.
“Poe Lilikuran mengajarkan kita bahwa Ramadan bukan hanya soal hubungan pribadi dengan Sang Pencipta melalui zikir dan doa, tapi juga tentang bagaimana kita peduli terhadap sesama,” ungkap salah satu warga saat ditemui di sela persiapan buka puasa bersama.

Momen ini menjadi ajang bagi masyarakat untuk memperkuat tali silaturahmi yang mungkin sempat renggang karena kesibukan sehari-hari. Berbagi makanan di malam-malam ganjil ini diyakini sebagai bentuk rasa syukur sekaligus persiapan batin untuk menjemput datangnya malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Menjaga Tradisi di Era Modern
Meski zaman terus berubah, Poe Lilikuran tetap bertahan sebagai identitas budaya Jawa Barat. Tradisi ini membuktikan bahwa nilai-nilai lokal mampu berjalan beriringan dengan ketaatan beragama. Di masjid-masjid, suasana malam menjadi lebih hidup dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dan doa-doa yang dipanjatkan dalam kekhusyukan iktikaf.

Kapolres Purwakarta Dampingi Kapolda Jabar Pastikan Kesiapan Rest Area KM 57

Bagi generasi muda, Poe Lilikuran adalah pengingat bahwa kemandirian dan kebahagiaan sebuah komunitas desa bermula dari kebiasaan saling memberi. Melalui kesederhanaan sepiring makanan yang dibagikan, ada doa-doa yang dipanjatkan agar keberkahan Ramadan tidak berlalu begitu saja.

Dengan tetap lestarinya tradisi ini, masyarakat Jawa Barat berharap nilai-nilai kebersamaan dan kesalehan sosial dapat terus tertanam, menjadikan setiap malam terakhir Ramadan sebagai momentum transformasi diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Dari Desa | Membaca Kampung Halaman