Daridesa.com, Tekno – Raksasa teknologi Apple baru saja memamerkan rekor pendapatan fantastis pada kuartal ketiga tahun 2026 (periode April–Juni). Tak tanggung-tanggung, penjualan iPhone sukses menyumbang 54,25 miliar dolar AS atau setara Rp 979 triliun.
Angka penjualan iPhone ini melonjak pesat 21,7 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, yang saat itu berada di kisaran Rp 804 triliun. Kesuksesan ini tidak sendirian, lini produk Mac (MacBook, iMac, dkk) juga mencatatkan pertumbuhan penjualan dua digit sebesar 28,7 persen, menjadi 10,35 miliar dolar AS.
Bahkan, sektor layanan digital (Services) seperti iCloud dan Apple Arcade turut mendongkrak pundi-pundi perusahaan dengan kenaikan 12,1 persen menjadi 30,73 miliar dolar AS.
Secara keseluruhan, total pendapatan Apple meroket 16 persen secara tahunan hingga menyentuh angka 109,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.974 triliun (Rp 1,9 kuadriliun). CEO Apple, Tim Cook, dengan bangga mengumumkan bahwa kinerja kuartal ini merupakan yang terbaik sepanjang sejarah perusahaan, berkat pertumbuhan masif di lini iPhone, Mac, dan Services di semua kawasan.
Adapun wilayah yang paling banyak berkontribusi pada penjualan Apple di kuartal III tahun fiskal 2026 secara berurutan adalah wilayah Amerika, Eropa, China, Asia Pasifik, dan Jepang.
Chief Financial Officer (CFO) Apple, Kevan Parekh mengatakan kuartal ini juga menjadi rekor baru bagi perusahaan dari sisi laba per saham dan arus kas operasional.
“Selain itu, jumlah perangkat aktif (installed base) Apple kini mencapai level tertinggi sepanjang sejarah kami untuk di seluruh kategori produk dan wilayah pasar,” tutur Parekh di kesempatan yang sama.
Ironi di Tengah Masyarakat Indonesia
Melihat angka triliunan rupiah yang diraup Apple, ada satu realita menggelitik jika kita melihat pasar Tanah Air. Harus diakui, masyarakat Indonesia turut andil menyumbang pundi-pundi kekayaan raksasa asal Cupertino ini. Sayangnya, bagi sebagian besar kalangan di Indonesia, memiliki smartphone atau laptop berlogo apel seringkali lebih dimaknai sebagai simbol ‘gengsi’ dan status sosial, alih-alih mengoptimalkan ‘fungsi’ teknologi yang sebenarnya.
Hal ini terasa cukup ironis jika kita mengingat kembali sikap Apple yang sempat meminta “tax holiday” (pembebasan pajak), enggan dan menolak keras wacana pembangunan pabrik manufaktur mereka di Indonesia. Di satu sisi, masyarakat kita rela merogoh kocek dalam-dalam bahkan ada yang sampai memaksakan diri demi validasi sosial.
Namun di sisi lain, perusahaan yang dibanggakan tersebut justru memilih berinvestasi dan membuka pabrik di negara tetangga, seakan menganaktirikan pasar Indonesia yang begitu loyal menyumbang omzet bagi mereka.

CEO Apple Tim Cook pada Acara WWDC 2026
Tantangan Pasokan di Kuartal Depan
Terlepas dari rekor yang diraih, laju kencang Apple diperkirakan akan sedikit mengerem pada kuartal keempat (Juli–September 2026). Perusahaan memproyeksikan pertumbuhan hanya di kisaran 9 hingga 11 persen, sedikit lebih rendah dari ekspektasi pasar Wall Street.
Tim Cook menjelaskan, hal ini bukanlah perkara menurunnya minat konsumen. Permintaan pasar justru diklaim melampaui ekspektasi. Masalah utamanya terletak pada keterbatasan pasokan teknologi manufaktur chip canggih. Kapasitas produksi saat ini dinilai kurang fleksibel untuk memenuhi lonjakan permintaan yang ada.
“Kami melihat kendala pasokan yang sangat signifikan saat ini, dengan fleksibilitas rantai pasok yang terbatas dan belum mampu untuk mengatasinya,” sebut Cook.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Apple kini tengah mencari dan mengevaluasi berbagai alternatif pemasok komponen agar rantai produksi iPhone dan perangkat andalan mereka lainnya tidak sampai lumpuh, sebagaimana dirangkum daridesa.com dari Reuters, Jumat (31/7/2026). (/Red)
Berita Dari Desa | Membaca Kampung Halaman

