Gemuruh Dibalik Sawah

Gemuruh Dibalik Sawah

Naskah teater berjudul “Gemuruh di Balik Sawah”, menggambarkan kehidupan damai warga desa yang berubah akibat arus perkembangan zaman:

Judul: Gemuruh di Balik Sawah
Genre: Drama Sosial
Durasi: ± 30 menit
Jumlah Tokoh: 16 (bisa disesuaikan)

Tokoh-Tokoh:
Pak Asep: Kepala desa, bijak dan disegani.
Bu Sri: Istri Pak Asep, keibuan, menjaga nilai tradisi.
Ilman: baik, sopan, menyukai ningsih, anak pa asep
Bu Suci: rentenir yang menyukai pa juna, ibunya wira dan ningsih
Wira: Pemuda desa, ambisius, lulusan kota.
Ningsih: Gadis desa, lugu tapi cerdas, adik Wira.
Tina: gadis desa, ceria, selalu ingin tau, lemot teman ningsih
Neneng: gadis desa, rada gaul,ceria, darting, humoris
Mang Ujang: Petani tua, mencintai tanahnya.
Mang jajat: petani
Roni: pengangguran autis sama burung
Teti: Istri muda yang suka gawai dan belanja online.
Yani: ibu” tukang gibah dan celametan
Nunung: istri mang pekerja proyek yang selalu ditinggal suami, tukang pinjam uang
Ipan : tukang paket
Pak Juna: Investor, mewakili perusahaan besar dari kota.

Adegan 1: Pagi di Desa
(Suara ayam berkokok. Musik latar alami: burung, gemericik air. Penduduk mulai beraktivitas.)
Pak Asep: (tersenyum menatap sawah)Alam ini tak pernah ingkar janji. Setiap musim, ia memberi tanpa banyak bicara.
Bu Sri: (membawa kopi)Tapi manusia kini, banyak yang tak tahu berterima kasih.
Pak Asep: Semoga bapak bisa membawa desa ini menjadi desa yang makmur ya bu, tanpa harus merusak alam dan sekitarnya
Bu Sri: Aamiin pak… (Sambil senyum tipis ke arah pak asep)
Mang Ujang: (lewat depan rumah pak asep sambil menenteng cangkul) Betul, Bu. Lahan makin sempit, anak muda malah jual sawah buat beli motor.
Pak Asep: Nanti kita diskusikan bersama mang, sama warga lainnya.
Mang ujang: Baik pak, siap. Saya berangkat dulu pak bu, mari… (Sambil tersenyum ke arah pak asep dan bu sri suasana damai dan akrab)

Adegan 2: Siang Hari di Rumah Warga
Ipan: Assalamualaikum paket…
Teti: Eh a ipan, waalaikumsalam itu paket saya yaa (gembira karena pakenya datang)
Ipan: Iya atuh siapa lagi kalo bukan punya teteh
Teti: Hehe iya a, Jadi berapa a?
Ipan: Rp.19.800 teh
(Teti memberikan uang 20.000 ke ipan)
Ipan: Gak ada kembaliannya teh…
Teti: Gapapa buat aa aja, buat tambah-tambah beli bensin (dengan nada tengil)
Ipan: Bisa aja si teteh (sambil senyum keheranan) mari teh… (Sambil pamit pergi)
Teti: Hati-hati a, semangakaaa semangat kaka…

Di sebrang rumah teti, bu yani dan bu nunung sedang bergibah

Bu yani: Bu nunung, liat deh cape saya liatnya. Tiap hari paket peket paaakeett aja terus yang dateng. Padahal suaminya cuma keja di desa, darimana coba uangnya? (Dengan nada sensi sambil alis di kerutkan dan bibir dimonyong-monyongkan)
Bu Nunung: Iya bu, saya juga heran kenapa dia beli paket terus tiap hari yaa. (Melirik ke arah teti dan melirik lagi ke arah bu yani dengan nada setuju sama ucapan bu yani)
Bu yani: Jangan-jangan jadi simpenan temen suaminya, kan suka ada yang pake mobil tuh kalo kerumahnya (sambil melotot)
Bu Nunung: Waah bisa jadi ini mah bu… Kalo saya sih amit-amit yaa walaupun suami saya jarang pulang tapi saya mah da gak kaya si teti itu (nada memvalidasi dirinya sendiri)
Bu yani: Yaudah bu, ayo kita lanjutin ngerujaknya (sambil makan rujak bareng bu nunung)
Bu Nunung: Bu…, kalo boleh saya mau pinjem 50rb buat beli beras (sambil tersenyum malu) soalnya suami saya kan belum pulang kerja, beras saya habis nanti saya ganti setelah suami saya pulang (memelas agar di pinjamkan uang)
Bu yani: Hmm bu nunung (menghela nafas), ini bu. (Sambil mengeluarkan uang dari sakunya dan di berikan ke bu nunung)
Bu Nunung: Makasih bu yani, emang bu yani paling besti, paling solid, dan baik hati sejagad rayaaa (nada memuji berlebihan)
Bu yani: Iya bu sama-sama

Adegan 3: Di sawah
Mang Jajat: Baru nyampe mang? tumben.
Mang ujang: Iya, tadi ngobrol bentar sama pa lurah sama bu lurah
Mang jajat: Wah ada apani, ada hal serius? (Dengan nada sedikit kepo)
Mang ujang: Engga, sambil lewat aja tadi nyapa bentar ngobrolin banyak sawah di jual sama anak muda buat beli motor (menjelaskan dengan nada kalem)
Mang jajat: Iya mang, saya juga denger kabar itu kalo sawah di desa sebrang banyak yang di jual ke inseftor yang banyak uang itu, yang suka beli-beli tanah
Mang Ujang: Investor jat bukan inseftor.
Mang Jajat: iya maksudnya itu mang Sepektor
Mang ujang: hmm iya deh jat (sambil menghela nafas dan pergi)

Adegan 4: Halaman Depan Rumah Ningsih
Neneg: Hari ini aku ga akan ngaji dulu ah
Tina: Kenapa ai kamu?
Neneng: Ya gapapa weh, gimana aku. Da ga ngaji juga aku mah bakal masuk surga
Tina: Emang surga punya punya bapa kamu? Meni pede ihh
Ningsih: Yehhh kenapa kalian teh, meni sampe sampe ribut gini atuh cuma soal itu ge.., emang kamu kenapa neng kok ga akan ngaji?
Neneng: Sebenernya aku hari ini…
Tina: Hari ini kenapa?
Ningsih: kenapa neng?
Neneng: Aku malu bilangnya
Ningsih: Kenapa malu ai kamu ihh cerita aja
Tina: iya ih kamu teh meni malu-malu kenapa, da udah lama temenanan sama kita teh
Neneng: aa… Aku hari ini menstruasi
Tina: apa menstruasi teh?
Ningsih: Ohh pantesan gak akan ngaji, haid maksudnya tinaa
Tina: ohh heddd
Ningsih: iyaa
Ningsih: ih meni gatau cuma gitu ge kamu mah

Adegan 5: Kedatangan Wira
(Wira pulang dari kota, dengan gaya lebih modern, mengenakan headphone dan membawa laptop)
Wira: (tersenyum menyapa)Halo, semuanya! Wah, desa ini belum berubah, ya?
Pak Asep: Desa ini memang tak perlu berubah banyak, Wira. Justru manusianya yang harus belajar bersyukur.
Wira:Tapi dunia terus maju, Pak. Eh gimana kabar bapa?
Pak Asep: Alhamdulillah saya selalu sehat, kamu gimana kerja di kota lancar?
Wira: Lancar pak, kalo desa ini gimana perkembangannya?
Pak Asep: saya bersama masyarakat disini selalu mengupayakan untuk tetap menjaga kelestarian alam agar masyarakat tetap subur makmur wira
Wira: Padahal dari kota saya bawa rencana besar pak untuk kemajuan desa ini. (Menjelaskan dengan nada meyakinkan)
Pak Asep: wahh rencana apa itu wira? Kalau sesuai dengan visi dan misi desa ini saya pasti dukung.
Wira: Begini pak, lahan di sini bisa dijadikan resort atau tambang batu kapur. Uangnya miliaran, Pak!
Pak Asep: (geram)Apa? Kau mau rusak tanah leluhur kita?
Wira: Bukan rusak, Pak. Upgrade! Lihat kota — semua serba digital. Desa juga harus ikut.
Pak Asep: Saya tidak setuju!, lebih baik masyarakat disini hidup damai seperti ini tanpa kehilangan tanah miliknya demi uang besar yang nantinya menghilangkan masa depan(Kesal)
Wira: Kalau begitu nanti kita obrolkan lagi pak, mariii saya pamit dulu (senyum tipis sambil melangkah pergi)

Adegan 6: Obrolan Wira, Bu Suci dan Pak Juna
Bu Suci: Wira… Kamu pulang nak! (Senyum bahagia ke arah wira)
Wira: Iya bu, ada investor dari kota yang tertarik sama desa ini buat di jadikan restoran atau tambang kapur yang hasilnya bakal milyaran dan orangnya sebentar lagi akan datang kesini ke rumah
Bu Suci: Ibu sangat setuju wira! Apalagi uang yang dihasilkan milyaran seperti itu, ibu pasti bakal dapat persenan besar kalo bisa merayu warga (gembira membayangkan uang di tangan)
Wira: Iya ibu bantu ya… Soalnya tadi aku bertemu pak asep langsung di tolak mentah-mentah (memelas)
Bu suci: Ah Pak asep emang pikirannya kolot, gabisa lihat peluang!. Tenang nanti ibu bantu

Kedatangan Pak Juna ke rumah Wira dan Bu Suci

(Tid tid suara klakson mobil berbunyi di depan rumah wira)

Wira: Siang pak, (wira dan bu suci berjabat tangan ke pak juna) saya kira bapak akan datang besok ternyata jadinya hari ini
Pak juna: Siang wira, siang bu. Iya saya jadinya hari ini karena besok ada meeting harus ke kalimantan

(Bu suci melotot memikirkan bahwa pak juna adalah orang penting, kaya dan banyak uang)

Bu Suci: Mari pak, kita ngobrol di dalam saja
Pak Asep: (senyum sambil mengikuti langkah bu suci dan wira masuk ke dalam rumah dan melanjutkan obrolan penting)

Adegan 7: Bu Suci dan Para Petani
(Keesokan harinya bu suci berkeliling menemui para petani yang baru beres dari sawah untuk diajak berdiskusi dengan memberikan amplop agar para petani menyetujui kesepakatan musyawarah yang akan di gelar minggu depan di bale desa)
Bu Suci: Eh mang ujang, mang jajat udah beres?? (Senyum menyambut mang ujang dan mang jajat)
Mang jajat: Iya bu, ini baru beres mau pulang. Tumben ibu berkeliling sampe kesini?
Bu Suci: ini saya ada sedikit rezeki buat para petani karena anak saya wira baru pulang dari kota.
Mang Ujang: Oh… A wira udah pulang? Saya udah lama ga liat dia pasti sekarang makin ganteng aja tuh
(bu suci tersenyum)
Mang Jajat: Ganteng Kaya saya kan mang
Mang ujang: Bukan ganteng kamu mah, tapi genteng jat!
Bu Suci: Yasudah ini mang jajat mang udin saya ada sedikit rezeki mohon diterima yaa, tapi saya titip pesen ketika nanti ada musyawarah desa mang jajat sama mang ujang iyakan saja apa yang perintah pak juna. Soalnya nanti akan menguntungkan mang jajat dan mang ujang
Mang jajat: Menguntungkan gimana bu?
Bu Suci: nanti kalo mang jajat dan mang ujang mengiyakan nanti kalian akan dapet uang milyaran
Mang ujang: Wah baik bu kalo gitu saya siap
Mang jajat: Saya juga siap bu.
Bu Suci: Bagus kalo gitu saya pamit dulu mang
Mang Ujang: silakan bu, hati-hati
Mang jajat: Hati-hati bu suci

(Bu suci pamit meninggalkan mang ujang dan mang jajat)

Adegan 8: Musyawarah di Balai Desa
(Penduduk berkumpul di balai desa, suasana tegang dan saling silang pendapat)
Pak Asep:
Saudara-saudara, hari ini kita kedatangan tamu dari kota. Beliau adalah pak juna investor dari kota yang akan membantu kita semua untuk meningkatkan perkembangan warga disini. (Warga tepuk tangan)
Pak Juna: (berjas, angkuh) Saya datang membawa masa depan. Lapangan kerja, hotel, restoran tambang kapur jalan baru. Hidup kalian akan lebih modern.
(Semua warga kaget mendengar kalimat yang dilontarkan pak juna)
Bu Sri:Modern apa, pak? Kalau air tak lagi mengalir jernih? Kalau anak-anak tak bisa lari-lari di sawah? Kalo kehidupan warga desa stop sampai disini akibat ulah bapa bagaimana?
Pak Juna: tenang bu saya jelaskan dulu
Ningsih: (lirih)Apakah semua harus dibayar dengan hancurnya ketenangan?
Wira:Ini tentang kemajuan ningsih!
Bu Suci: Diam ningsih, kamu jangan ikut campur. Kamu gak akan ngerti urusan pembangunan!
Mang Ujang: (dengan nada getir)Apa gunanya maju, kalau kita kehilangan jati diri?
Mang Jajat: Saya kira musyawarah ini memang betul untuk kemajuan masyarakat, ternyata untuk mengambil hak kami sebagai masyarakat!
Pak Asep: Tenang-tenang bapak ibu tenang, saya tidak tahu kalau yang akan di katakan pak juna seperti ini. Alangkah baiknya kita tidak lanjutkan musyawarah ini pak, karena ini sudah keluar dari visi misi desa ini.
Ilman: Betul apa yang dikatakan ningsih pak bu, dengan adanya pembangunan seperti apa yang telah bapa katakan barusan ketenangan desa ini akan hancur dan tidak ada lagi kedamaian.
Pak Juna: Nak ilman, anda ini anak muda seharusnya setuju dengan adanya pembangunan ini, pikiran nak ilman harusnya terbuka dengan peluang yang sudah ada di depan mata. Bu suci juga ini gimana kerjanya saya sudah keluar banyak uang tapi masyarakat disini tidak ada yang mau menyerahkan sawah dan kebunnya untuk di jadikan tempat tambang!
Bu Suci: Saya sudah berusaha pak, waktu itu para petani mengiyakan apa yang saya suruh tapi tidak tahu kenapa jadi seperti ini
Mang ujang: Saya dulu setuju karena kalimat yang ibu lontarkan tujuannya tidak seperti ini
Mang jajat: betul, kalo tujuannya seperti ini saya tidak akan menerima uang itu.
Pak Juna: wira! Saya kecewa sama kamu dan ibu kamu, saya tidak mau tahu uang saya yang 300jt harus di kembalikan hari ini juga!
Wira: Tapi uangnya sudah saya dan ibu saya bagikan ke warga pak, saya sudah tidak megang uangnya sekarang
Pak Juna: saya tidak mau tahu!
Bu Suci: maafkan kami pak, saya janji desa ini pasti bisa di jadikan tempat wisata seperti apa yang bapa inginkan
Bu yani: heh bu suci jangan sembarang bicara yaa, saya memang bukan petani tapi saya masih mencintai tanah subur ini
Bu Nunung: iya bu suci ini gimana sih, jangan karena uang kamu korbankan kita semua!
Teti: dasar si suci ini gatau di untung, serakah sekali sih kamu sampe mau ngorbanin satu desa buat memperkaya diri sendiri
Wira: jaga ya ucapan kalian, ibu saya tidak seperti apa yang kalian bicarakan
Teti: halahhh ibu sama anak sama aja
Bu sari: sudah sudah sekarang kalian semua bubar

(Pak juna meninggalkan balai desa dengan amarah disusul wira dan bu suci)

Adegan 9: Sangsi Sosial Wira dan Bu Suci
(Balai Desa)
(Warga berkumpul di rumah pak asep, wajah-wajah tegang. Pak asep berdiri di depan, memegang kertas laporan warga.)

Pak Asep: Warga sekalian, hari ini kita berkumpul bukan untuk memecah belah, tapi untuk memutus benang keserakahan yang nyaris mematikan gotong royong kita.
Mang ujang :Tanah kami hampir dijual, sawah dijadikan lahan parkir restoran. Semua atas nama “investasi keluarga Bu Suci”!
Mang jajat: Dan anaknya, Wira, ikut-ikutan memaksa pemuda desa agar ikut proyek mereka. Siapa yang tak geram, Pak Asep?

(Muncul Bu Suci dan Wira, langkahnya angkuh.)

Bu Suci:Huh! Kalian tidak tahu apa-apa soal bisnis. Kami hanya memanfaatkan peluang. Kalian terlalu miskin untuk mengerti!
Pak Asep: (tegas)Tapi Ibu sudah melewati batas. Mengintimidasi, memanipulasi, dan memecah persaudaraan warga. Di desa ini, bukan uang yang memimpin, tapi kebersamaan.
Bu Suci: Bapa sama saja seperti warga disini tidak melihat peluang, padahal pak juna sudah siap berinvestasi di desa ini.
Bu sri: sudahlah bu suci desa ini awalnya damai. Tapi setelah ada kejadian ini semua ya jadi resah dan gelisah
Ilman: betul apa yang ibu saya katakan desa ini menjadi kacau setelah kedatangan wira dan kelakuan ibu yang serta merta memberikan hak warga kepada orang luar (menyuarakan secara tegas)

(Suasana menjadi sunyi. Pak Asep mengangkat tangan.)

Pak Asep: Kami tak bisa memenjarakan ibu, tapi kami bisa memilih untuk tidak lagi melayani atau melibatkan ibu dan wira dalam kegiatan desa mulai besok, tidak ada yang membeli dari toko Ibu, tidak ada warga yang menyapa atau melibatkan wira dalam musyawarah pemuda. Semua bentuk kerja sama bisnis diputus.
Ilman:Ini bukan balas dendam, tapi peringatan. Di desa ini, yang tamak akan kehilangan tempat.
Bu Sri:Kami tidak butuh minta maaf… tapi butuh perubahan nyata.

(Bu Suci terlihat murka, tapi Wira mulai terlihat gelisah.)

Wira: (lembut)Bu… kita salah. Lihat mereka. Mereka mungkin tak punya banyak uang, tapi mereka punya hati dan harga diri. Aku tak bisa begini terus.

Adegan 10: pengusiran Wira dan Bu Suci
(Warga berkumpul. Suasana tegang. Pak asep berdiri di depan rumah bu suci bersama Bu Sri, Ilman dan warga. Bu Suci dan Wira keluar rumah)

(Warga satu persatu menyuarakan protesnya )
Teti: (marah melihat bu suci keluar tanpa dosa) Dulu tak pernah sekacau ini! Semenjak ibu dan wira akrab dengan investor kota jadi banyak kekhawatiran!
Bu yani: Usir aja pakkk ibu dan anak ini
Nunung: iya pak di usir saja rentenir ini, karena banyak mencekik rakyat miskin
Teti: betul, selain itu juga bu suci selalu mencurangi rakyat kecil
Mang jajat: pergi kau Suci, Wira!
Pak Asep: tenang bapak-bapak ibu-ibu tenang

(Mang ujang, mang jajat dan warga menyeret bu suci dan wira pergi sedangkan ningsih hanya menangis di balik pintu dengan pasrah)

Mang ujang: pergi dan jangan balik lagi ke desa ini
Mang jajat: kami gak suda ada manusia serakah di tempat ini

(Bu suci, wira berhenti dengan tangan yang masih di pegangi warga memelas pada pak asep meminta keadilan)

Bu suci: pak aseeeeppp maafkan saya dan anak saya, saya janji tidak akan mengulangi lagi kesalahan ini
Wira: iya pak kami janji tidak akan mengulanginya lagi, kalo ada yang harus kami ganti semuanya kami ganti pak asal beri kami kesempatan untuk tidak meninggalkan desa ini
Pak Asep: Alam dan warga sedang bicara. Ia protes Bu Suci, Wira. Saya sebagai kepala desa hanya bisa mendengarkan keluh kesah warga. Mungkin ini keadilan paling adil agar desa ini tetap damai dan sejahtera tanpa ada kejadian yang tidak diharapkan
Wira: (menyesal sambil nangis memelas)Aku kira aku membawa masa depan. Tapi justru… aku menghancurkannya, aku menyesal maaf saya bapa ibu semuanya.

(Warga membawa pergi bu Suci dan Wira, hanya tersisa Ningsih dan Hilman yang memberi semangat kepada Ningsih)

Pesan Moral:
Kemajuan harus dibarengi dengan kearifan lokal. Desa bukan tempat tertinggal, tapi sumber kearifan hidup. Jika tidak dijaga, perkembangan zaman bisa menjadi bencana bagi alam dan manusia itu sendiri.

TAMAT!

Penulis: Tata

Dari Desa | Membaca kampung Halaman

ARTIKEL TERKAIT
Gunung Rahayu: Antara Pengembangan Wisata dan Dampak Sosial

Gunung Rahayu: Antara Pengembangan Wisata dan Dampak Sosial

Rumah Kosong Hidup Kembali, Desa Ditantang Hadirkan Ruang Kreatif

Rumah Kosong Hidup Kembali, Desa Ditantang Hadirkan Ruang Kreatif

HUT ke-80 RI di Purwakarta Diperingati dengan Upacara Khidmat dan Karnaval Meriah

HUT ke-80 RI di Purwakarta Diperingati dengan Upacara Khidmat dan Karnaval Meriah

Menghidupkan Literasi Desa: Saresahan Aksara KKN STAI Riyadhul Jannah di Taringgul Tengah

Menghidupkan Literasi Desa: Saresahan Aksara KKN STAI Riyadhul Jannah di Taringgul Tengah

PORSA 2025 STIE Wikara Resmi Dibuka, Angkat Tema “Mahasiswa Satu Suara, Satu Rasa”

PORSA 2025 STIE Wikara Resmi Dibuka, Angkat Tema “Mahasiswa Satu Suara, Satu Rasa”

Masyarakat Taringgul Tengah Belajar Membuat Minuman Herbal untuk Kesehatan

Masyarakat Taringgul Tengah Belajar Membuat Minuman Herbal untuk Kesehatan