Kabar

Kubur Mimpi Jadi Polisi, Bocah di Desa Girisekar Pilih Rawat Ibu yang Lumpuh

Fendi (10 tahun) terduduk lesu di samping ibunya, Siaminah (45), yang terbaring lemah di atas ranjang kayu di kamar mereka yang sederhana. Matanya menatap kosong, seolah memendam kesedihan yang mendalam.

Gunungkidul, daridesa.com – Di balik perbukitan karst Desa Girisekar, tepatnya di Padukuhan Jeruken RT 06/RW 09, Kapanewon Panggang, terselip sebuah kisah haru tentang bakti seorang anak. Ahmad Tri Efendi, bocah yang baru menginjak usia 10 tahun, harus merelakan masa sekolahnya demi menjadi “tulang punggung” kasih sayang bagi sang ibu, Siaminah (45).

Rumah sederhana tanpa jendela menjadi saksi bisu keseharian Fendi, sapaan akrabnya. Di dalam kamar beralaskan tanah, ia setia menemani ibunya yang kini tak lagi mampu melihat dan hanya bisa terbaring lumpuh.

Pilih Putus Sekolah demi Keluarga

Fendi adalah potret nyata keteguhan hati dari pelosok Gunungkidul. Sejak tiga tahun lalu, saat masih duduk di kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah (MI), ia memutuskan berhenti sekolah. Keputusan berat itu diambil bukan tanpa alasan. Ia ingin membantu ayahnya, Slamet (51), yang kondisinya juga memprihatinkan karena menderita sakit saraf sejak dua tahun terakhir.

“Bapak yang menyuapi, saya yang memberikan minum,” ujar Fendi dengan nada polos saat ditemui di kediamannya, Minggu (15/3/2026).

Hari Air Sedunia 2026: Menakar Ketimpangan Akses dan Beban Gender di Pelosok Desa

Meski sesekali masih terlihat bermain sepeda dengan teman sebaya di sekitar desa, beban yang dipikul Fendi jauh melampaui usianya. Di saat anak-anak lain sibuk belajar di kelas, Fendi sibuk memastikan kebutuhan dasar sang ibu terpenuhi.

Mengubur Cita-Cita Demi Bakti

Ironisnya, Fendi sebenarnya adalah anak yang mencintai dunia pendidikan. Ia mengaku sangat menyukai pelajaran Matematika. Ketika ditanya mengenai masa depannya, sebuah impian besar sempat terucap dari bibir kecilnya.

“Mau jadi polisi,” ucapnya lirih.

Namun, ketika tawaran sekolah gratis datang—termasuk dari Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih yang sempat menjenguk langsung ke Desa Girisekar—Fendi tampak ragu. Ada kegamangan di matanya; antara keinginan mengejar mimpi atau rasa tak tega meninggalkan ibunya di ruangan pengap tanpa jendela itu. Ia hanya tertawa kecil saat diingatkan kembali soal cita-citanya menjadi polisi, seolah menyadari bahwa untuk saat ini, mimpinya harus dikubur dalam-dalam.

Shalat Idulfitri 1447 H di Desa Butuh: Menjemput Kemenangan dalam Balutan Pesona Alam Wonosobo

Gotong Royong untuk Fendi

Kisah Fendi kini mulai mengetuk hati banyak pihak setelah viral di media sosial. Berbagai bantuan mulai mengalir ke Padukuhan Jeruken. Saat ini, keluarga tersebut bertahan hidup dengan bantuan dari anak sulung yang bekerja di Sleman serta kepedulian warga desa sekitar.

Kisah Fendi di Desa Girisekar ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang besarnya pengorbanan seorang anak dan pentingnya pemerataan akses kesejahteraan di wilayah perdesaan.

Dari Desa | Membangun Kampung Halaman

Membedah Skema dan Mekanisme Penyaluran BLT Dana Desa 2026