Sulawesi Tengah, daridesa.com – Pemandangan unik sekaligus menyejukkan hati tersaji di perbatasan Desa Kotaraya Timur dan Kotaraya Selatan, Kecamatan Mepanga, Kabupaten Parigi Moutong. Di satu titik, dorongan ekonomi warga menyambut Idulfitri terasa begitu kontras dengan kenyamanan mendalam perayaan Hari Raya Nyepi yang berlangsung secara bersamaan.
Pusat keramaian terlihat jelas di Kotaraya Selatan yang menjadi poros ekonomi masyarakat. Menjelang lebaran, jalanan padapadati warga yang berbelanja kebutuhan hari raya, menciptakan hilir kendaraan mudik dan riuh rendahnya tawar-menawar yang tanpa jeda dari pagi hingga malam.
Namun, hanya berjarak beberapa meter dari keramaian-pikuk pasar, suasana berubah drastis saat memasuki kawasan pemukiman umat Hindu di Kotaraya Timur. Di sini, para pecalang menjaga ketat selama 24 jam penuh untuk memastikan Catur Brata Penyepian berjalan khidmat dan tanpa gangguan.
Salah satu pecalang yang bertugas, I Ketut Arya (45), mengungkapkan bahwa penjagaan maksimal ini adalah bagian dari kewajiban adat untuk menjaga kesucian hari raya pada Kamis (19/3/2026). Ia menekankan pentingnya ruang toleransi dalam situasi ini.
“Penjagaan kami lakukan 24 jam. Ini sudah menjadi bagian dari kewajiban kami. Kami juga aktivitas menghargai masyarakat lain, silakan beraktivitas seperti biasa, yang penting tidak mengganggu pelaksanaan ibadah kami,” jelas I Ketut Arya .
Meski bertepatan dengan puncak persiapan Lebaran umat Islam, kedewasaan sikap masyarakat di lapangan menjadi kunci kondusifnya wilayah tersebut. Afni (36), salah seorang warga setempat, mengaku sangat memahami situasi saudaranya yang sedang beribadah. Ia berusaha menjaga agar persiapan belanja lebaran yang ia lakukan tidak mengusik kekhusyukan Nyepi.

Penutupan jalan di perbatasan Desa Kotaraya Timur-Kotaraya Selatan, warga diminta untuk menghentikan aktivitasnya sementara selama pelaksanaan Nyepi.
Kawasan perbatasan desa yang menjadi akses utama pasar memang sempat dipetakan menuju ke titik rawan kepadatan. Namun berkat koordinasi yang baik antara pecalang dan kesadaran tinggi masyarakat sekitar, potensi sirkulasi dapat diredam dengan baik.
Potret dari Kecamatan Mepanga ini membuktikan bahwa toleransi di akar rumput bukan sekadar slogan. Di tengah dinamika ekonomi dan ketaatan ibadah yang berbeda, masyarakat desa mampu berjalan beriringan dalam harmoni yang nyata.

