SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ruang Warga

Migrasi Pemuda Desa ke Kota: Pulang Saat Lebaran, Pergi Demi Bertahan

Sumber Foto: Dua anak desa yang sedang bermain gembala (Foto: Pintrs)
Sumber Foto: Dua anak desa yang sedang bermain gembala (Foto: Pintrs)

Ruang Warga – Setiap lebaran, ruang tamu desa dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan seperti yang sering Arga dengar dari Tante Yuli di film Tunggu Aku Sukses Nanti, “Kapan pulang?” akan tetapi beberapa hari kemudian, pertanyaannya beralih ke pertanyaan yang lebih praktis: “Kapan kamu akan kembali ke kota lagi?” Fenomena ini merupakan potret dari migrasi pemuda desa ke kota yang terus berulang.

Realitas ini lebih dari sekadar tradisi musiman. Hal ini merupakan potret sesungguhnya dari dinamika sosial yang lebih dalam: bahkan ada banyak pemuda desa yang memilih untuk pergi ke luar negeri. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) melalui hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 menunjukkan bahwa migrasi di Indonesia didominasi oleh perpindahan dari desa ke kota (urbanisasi), yang umumnya dipicu oleh faktor ekonomi, pendidikan, dan akses layanan. (BPS, 2020). Masih dari data BPS di tingkat daerah menunjukkan bahwa banyak desa/kelurahan memiliki warga yang menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau dulu dikenal sebagai TKI. Migrasi ke luar negeri bukan fenomena kecil tapi sudah jadi bagian dari kehidupan desa. Menariknya, pilihan ini seringkali tidak didorong oleh keinginan untuk hengkang, melainkan karena rasa kewajiban. Perginya pelan-pelan, tapi tanggung jawabnya datang barengan, tanpa sempat pamit. Lucunya, di desa mereka dirindukan, di kota mereka diabaikan tapi tetap saja bertahan, karena pulang tanpa hasil rasanya lebih menakutkan daripada tetap tinggal dalam lelah.

Pertama, mari kita perjelas: ini bukan tentang pemuda desa yang merasa tidak cocok atau terlalu berambisi untuk tinggal di pedesaan; kenyataannya, banyak yang hanya ingin tetap dekat dengan keluarga, menghindari biaya asrama, dan makan tanpa khawatir akan kenaikan harga seperti kopi. Sayangnya, kenyataan tidak selalu seindah yang kita harapkan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama migrasi dari desa ke kota adalah kurangnya kesempatan kerja di desa. Kesempatan kerja seringkali terbatas pada sektor informal atau posisi yang menawarkan gaji yang relatif rendah. Dalam keadaan seperti ini, sulit bagi kaum muda untuk membangun masa depan yang mereka anggap berharga, baik dengan menikah, menghidupi keluarga, atau sekadar hidup bebas utang pada akhir bulan.

Singkatnya, bukan karena kurangnya rasa cinta terhadap desa, melainkan karena kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda.

Mangrove Pasir Putih Cilamaya: Di Antara Stigma, Migrasi, dan Harapan dari Pesisir Karawang

Sebaliknya, kota menawarkan segala godaannya. Pendidikan lebih mudah diakses, pilihan pekerjaan lebih bervariasi, dan adanya harapan mobilitas sosial. Kota menawarkan sesuatu yang jarang dilakukan desa: janji adanya kemungkinan.

Meski begitu, kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa ini bukanlah persaingan yang sehat. Dalam studi pembangunan, ada istilah yang sangat mencolok: bias perkotaan. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan biasanya berpihak pada wilayah perkotaan dibandingkan perdesaan. Kota mempunyai konsentrasi infrastruktur, investasi, dan layanan publik yang lebih tinggi.

Oleh karena itu, ketika sebuah desa merasa “tertinggal”, hal ini bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya pembangunan, masalahnya karena desa tersebut tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk berkembang.

Konsekuensinya, generasi muda di desa harus memilih di antara dua pilihan yang tidak ada satupun yang ideal. Tinggallah di desa yang peluangnya kecil, atau pindahlah ke kota dan hadapi semua bahaya yang menyertainya.

Dan jangan berasumsi bahwa kehidupan kota selalu seperti yang digambarkan dalam iklan pekerjaan yang memotivasi tersebut.

Dari Desa Lebak Anyar, Ari Nugraha Kenalkan Wayang Plastik dari Limbah dan Cerita Lokal ke Forum Internasional

Kenyataannya? Banyak migran muda mendapatkan pekerjaan di sektor informal, dan hanya berpenghasilan kecil. Tinggal di kamar kos yang sempit membuka pintu memperlihatkan dapur, tempat tidur, dan masa depan semua dalam satu pandangan. Makan mie instan sudah menjadi kebiasaan dan bukan pilihan terakhir ditemani dengan musik dari perunggu band.

Lucu? Sedikit. Tragis? Wajar.

Penelitian bahkan menunjukkan bahwa urbanisasi yang tidak terkendali justru menciptakan kantong-kantong kemiskinan baru di perkotaan. Jadi, alih-alih mengatasi keterbatasan mereka, beberapa anak muda justru beralih dari satu jenis kesulitan ke kesulitan lainnya.

Ini lebih merupakan perbaikan masalah daripada perbaikan kehidupan.

Ironinya, meski menghadapi banyak tantangan, masih banyak orang yang memutuskan untuk tetap tinggal di kota tersebut. Mengapa? Karena setidaknya masih ada harapan tipis tetap saja nyata. Pada saat yang sama, di desa, harapan terkadang terasa mandek.

Hadi Albulaqi; Seni Menyikapi Batu-batu Perjalanan

Pada tahap ini, kita harus berhenti menyalahkan individu dan fokus pada pemeriksaan sistem.

Mengapa desa tidak bisa memberikan lebih banyak lapangan kerja?

Mengapa akses terhadap pendidikan berkualitas masih timpang?.

Mengapa pembangunan masih terasa sepihak?

Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting karena jika kita tidak menjawabnya, kita hanya akan mengulangi siklus yang sama: generasi muda akan pergi, desa akan kehilangan vitalitasnya, dan desa akan semakin tertinggal.

Sebenarnya jika dicermati, desa ini menyimpan potensi yang cukup besar. Dengan sumber daya alam yang melimpah, komunitas yang kuat, dan peluang ekonomi digital baru yang dapat diakses tanpa harus berpindah ke kota.

Terlepas dari potensi tersebut tidak serta merta menjadi peluang jika tidak dikelola dengan serius.

Kita sering mendengar istilah “membangun desa dari pinggiran”. Kedengarannya keren, seperti judul seminar nasional. Bagaimanapun juga pada kenyataannya, banyak desa yang masih kekurangan akses dan dukungan yang diperlukan untuk pembangunan.

Program dan anggarannya sudah ada, miris implementasinya sering kali baru setengah jalan.

Sementara itu, pemuda desa yang seharusnya menjadi motor penggerak justru lebih banyak berada di luar desa.

Ibaratnya kamu punya tim sepak bola, tapi semua pemain terbaiknya hengkang ke klub lain.

Lalu kita bertanya mengapa desa sulit berkembang.

Sebenarnya jalan-jalan ke luar negeri bukanlah hal yang buruk. Faktanya, dalam banyak kasus, ini adalah cara yang masuk akal untuk bertahan hidup. Banyak yang sukses di kota sebelum kembali ke desa dengan membawa pengalaman dan modal baru.

Masalahnya adalah tidak semua orang mempunyai kesempatan untuk “kembali dengan sukses”. Ada pula yang justru terjebak dalam siklus kerja yang tidak ada kepastiannya.

Oleh karena itu, untuk menjadikan desa-desa lebih hidup, solusi utama bukanlah dengan mencegah generasi muda untuk bermigrasi. Itu tidak realistis.

Hal yang paling penting adalah menciptakan kondisi bahwa tinggal di desa merupakan pilihan yang tepat dan bukan pilihan terakhir.

Artinya:

Kesempatan kerja harus diperluas.

Akses terhadap pendidikan harus ditingkatkan.

Infrastruktur harus ditingkatkan.

Yang tidak kalah pentingnya adalah perlunya menciptakan peluang nyata bagi generasi muda untuk berkembang.

Bayangkan jika desa menawarkan peluang bisnis yang menjanjikan, akses internet yang dapat diandalkan, dan lingkungan kreatif yang mendukung. Bukan tidak mungkin generasi muda akan memilih bertahan atau bahkan kembali.

Pada akhirnya, kebanyakan orang tidak ingin bepergian jauh. Mereka hanya ingin menjalani kehidupan yang terhormat.

Dan jika desa bisa menyediakan hal tersebut, mungkin suatu saat pertanyaan yang diajukan saat Idul Fitri akan berubah lagi.

Pertanyaan “Kapan kamu kembali ke kota?” tidak lagi ditanyakan.

Tapi: “Apakah kamu masih betah tinggal di desa?”

Dan semoga jawabannya bukan lagi senyuman pahit, melainkan rasa percaya diri.

Impian tidak selalu harus dimulai dari kota.

Penulis: Anomia

Dari Desa | Membaca Kampung Halaman

× Advertisement
× Advertisement