SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar Jelajah Desa

Penuh Antusias! Begini Cara Mahasiswa Seni UNJ Maknai Ritual Ngalaksa Agar Tetap Eksis di Era Modern

Para peserta upacara adat Ngalaksa terlihat tekun mempersiapkan janur, didampingi oleh generasi muda. Di bagian tengah, dengan cermat Sekar, dan Nazla yang mengabadikan moment nya dengan fokus kamera, sedang mendokumentasikan prosesi sakral tersebut sebagai bagian dari studi mereka.

Sumedang, Jawa Barat – Di tengah arus modernisasi yang kian kencang, Upacara Adat Ngalaksa tetap berdiri kokoh sebagai mercusuar tradisi. Namun, ada yang berbeda dalam penyelenggaraan tahun ini. Kehadiran generasi muda, khususnya pelajar seni, memberikan warna baru dalam memaknai ritual tahunan ini bukan sekadar tontonan, melainkan identitas yang harus terus dihidupkan.

Bagi Sekar (22), mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang hadir langsung dalam prosesi tersebut, Ngalaksa memberikan pengalaman empiris yang melampaui teori di bangku perkuliahan. Meski baru bergabung di hari ketiga, ia mengaku terkesima dengan kuatnya sinergi antara seni dan spiritualitas masyarakat setempat.

“Upacara Ngalaksa bukan hanya acara budaya saja, tapi pengalaman yang memberi banyak pelajaran tentang masyarakat yang masih menjaga nilai spiritual, kebersamaan, dan tradisi leluhur. Musik Tarawangsa dan ritualnya membangun suasana yang kuat dan berbeda dari kehidupan sehari-hari,” ujar Sekar dengan antusias.

Ia menambahkan bahwa penghargaan setinggi-tingginya patut diberikan kepada warga yang konsisten menjaga warisan ini.

“Bagi saya pribadi, ini pengalaman berharga karena bisa melihat langsung hubungan antara seni, ritual, dan kehidupan masyarakat dalam satu kesatuan budaya,” tutupnya.

Kader GP Ansor Terpilih Jadi Kades Liunggunung Purwakarta

Senada dengan Sekar, Nazla (22), rekan sejawatnya dari UNJ, menyoroti pentingnya peran teknologi dan kreativitas anak muda dalam melestarikan kesenian Tarawangsa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Ngalaksa. Menurutnya, anak muda harus berani bereksperimen dengan media modern tanpa merusak aturan adat.

“Generasi muda bisa memperkenalkan Tarawangsa lewat media sosial, film pendek, hingga workshop budaya agar lebih dikenal luas. Namun, nilai sakral, aturan adat, dan makna spiritual tetap harus dijaga agar tidak hilang dari tradisi aslinya,” jelas Nazla.

Saat ditanya mengenai waktu yang tepat untuk mulai peduli pada budaya, Nazla menegaskan bahwa tidak ada waktu lain selain sekarang. Baginya, ancaman kepunahan budaya nyata jika generasi Z dan Alpha hanya menjadi penonton pasif.

“Waktu yang tepat untuk mulai bergerak adalah saat ini. Jika bukan kita, siapa lagi? Kita bisa mulai dari hal kecil, seperti mempelajari, mengenalkan, dan terlibat langsung dengan masyarakat sekitar,” tegasnya.

Keduanya sepakat bahwa identitas bangsa melalui budaya seperti Ngalaksa tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang kuno. Harapan besar nasional digantungkan agar di masa mendatang, ritual ini tidak hanya sekedar eksis, namun berkembang menjadi kebanggaan yang dipahami maknanya secara mendalam.

Harmoni Spiritualitas di Rancakalong: Memaknai Simbol Sesajen Upacara Adat Ngalaksa

“Budaya bukan sesuatu yang kuno, tapi identitas yang harus dijaga bersama agar tidak hilang di masa depan. Semoga Ngalaksa bukan hanya dikenal sebagai acara tahunan, tapi dipahami nilai dan maknanya oleh generasi muda,” tutup Sekar dalam sesi wawancara tersebut.

× Advertisement
× Advertisement