SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar

Harmoni Spiritualitas di Rancakalong: Memaknai Simbol Sesajen Upacara Adat Ngalaksa

Seluruh unsur sesajen yang kini dimaknai sebagai simbol sedekah yang kemudian dibagikan kepada warga untuk mempererat ikatan sosial dan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Sumedang, Jawa Barat Upacara Adat Ngalaksa di Rancakalong bukan sekadar perayaan panen tahunan, melainkan sebuah wujud mendalam dari keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan. Di balik kemeriahan prosesnya, terdapat unsur sesajen yang sarat akan makna simbolik yang kini telah mengalami akulturasi selaras dengan nilai-nilai Islam.

​Dalam pelaksanaan tradisi ini, sesajen diposisikan sebagai perangkat spiritual untuk menciptakan suasana sakral dan memperkuat kekhidmatan ritual.

Berdasarkan dokumen panduan upacara, yang ditulis Deti Lindiana (23) setiap unsur dalam sesajen memiliki pesan filosofis yang kuat:

  1. Nasi Tumpeng : Menjadi simbol puncak rasa syukur, kemakmuran, serta hasil kerja keras kolektif masyarakat agraris.
  2. Wangi-wangian (Bunga dan Aroma Alami) : Digunakan sebagai penyambut spiritual dan penenang batin. Dalam konteks Islamisasi, penggunaan bunga mawar dan melati lebih diutamakan untuk menonjolkan keharuman alami.
  3. Air Putih : Melambangkan kesucian niat, keikhlasan, dan udara sebagai sumber kehidupan yang utama.
  4. Hasil Bumi (Buah-buahan dan Bakakak) : Simbol keberagaman rezeki yang halal serta kesuburan tanah yang memberikan kehidupan.

Seiring berkembangnya zaman dan pengaruh dakwah Islam di tanah Sunda, pemaknaan terhadap sesajen di Ngalaksa telah bergeser secara fundamental. Unsur-unsur tersebut kini tidak lagi dianggap sebagai persembahan kepada roh, melainkan representasi dari simbol sedekah dan penghormatan kepada warisan leluhur.

​Hal ini dipertegas dengan tradisi pembagian makanan sesajen kepada warga, tamu, dan anak-anak setelah prosesi selesai. Praktik ini dipandang sebagai bentuk keberkahan nyata dan upaya mempererat ikatan sosial antarwarga (gotong royong).

Menjaga Nafas Leluhur: Puncak Khidmat Upacara Adat Ngalaksa 2026 di Rancakalong Sumedang

Selain aspek spiritual, nilai kearifan lokal dalam Ngalaksa mengajarkan masyarakat untuk memposisikan alam sebagai mitra kehidupan. “Alam harus dijaga dan dihargai, bukan dieksploitasi,” sebagaimana tercermin dalam nilai-nilai tradisional yang diusung upacara ini.

​Melalui perpaduan antara musik Tarawangsa yang meditatif dan simbol-simbol sesajen yang penuh doa, Upacara Adat Ngalaksa terus berdiri tegak sebagai identitas budaya yang menyatukan harmoni batiniah masyarakat Rancakalong dengan ajaran agama.(red)

Berita Dari Desa | Membangun Kampung Halaman

× Advertisement
× Advertisement