SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akar & Budaya

Wajik nan Lengket Manis, Simbol Pemersatu Warga Desa Keji

Ilustrasi Wajik nan Lengket Manis, Simbol Pemersatu Warga Desa Keji

Keji, Semarang – Grebeg Wajik menjadi salah satu acara yang dinantikan warga Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, dalam peringatan Haul Sesepuh Desa Keji, Sabtu (11/7/2026) malam. Wajik berbahan dasar beras ketan seberat sekitar 60 kilogram itu disusun berbentuk gunungan.

“Wajik adalah penganan yang cenderung lengket dan rasanya manis, ada filosofi di dalam wajik tersebut,” ungkap Kepala Desa Keji, Siswanto, dikutip daridesa.com dari kompas.com (12/07/2026).

Wajik nan Lengket Manis, Simbol Pemersatu Warga Desa Keji (via Kompas.com)

Siswanto menjelaskan, sifat wajik yang lengket melambangkan persatuan dan kerukunan antarwarga, termasuk dengan pemimpinnya. Rasa manis pada wajik diartikan sebagai harapan akan kehidupan yang makmur dan sejahtera, sementara bentuknya yang kotak dan saling menyambung menggambarkan kebersamaan. Ia menyebut gunungan dengan fondasi wajik ini menjadi simbol kekuatan yang lahir dari kegotongroyongan masyarakat Desa Keji.

Proses pembuatan wajik yang memakan waktu lama dikerjakan secara gotong royong oleh warga, termasuk bahan baku yang berasal dari sumbangan sukarela masyarakat. Dalam rangkaian haul ini, panitia juga memberikan santunan kepada anak yatim piatu dengan total Rp16,8 juta, di mana masing masing anak menerima Rp100.000.

Haul Sesepuh Desa Keji merupakan kegiatan rutin tahunan yang digelar pada bulan Muharram. Tahun ini, rangkaian acara berlangsung sejak Kamis (9/7/2026) hingga Sabtu (11/7/2026), diawali dengan ziarah ke makam leluhur dan sesepuh di seluruh dusun. Grebeg Wajik sendiri dilaksanakan setelah prosesi mauidhoh hasanah yang diikuti warga bersama jemaah Al Khidmah.

Kokoh Di Tengah Laut, Makam Syekh Abdullah Mudzakir Jadi Magnet Religi dan Penggerak Ekonomi Warga Desa Bedono

Berita Dari Desa | Membangun Kampung Halaman

× Advertisement
× Advertisement