Manggarai Barat, NTT – Pengembangan ekowisata di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), semakin diperkuat seiring besarnya potensi wisata di daerah tersebut. Minat wisatawan domestik maupun mancanegara tidak hanya tertuju pada Taman Nasional Komodo, tetapi juga kekayaan bentang alam, keanekaragaman hayati, ekosistem pesisir dan laut, serta warisan budaya yang tersebar di berbagai kawasan desa wisata.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Manggarai Barat, Petrus A Rasyid, menyebut potensi desa wisata menjadi salah satu daya tarik paling menonjol di wilayah tersebut.
“Kita sudah punya desa wisata kurang lebih 94. Dari 94 desa wisata itu ada kurang lebih 7 desa wisata yang sudah kita intervensi dengan program Fasilitasi Masyarakat Desa Wisata (Fadmadewi),” ungkap Petrus A Rasyid, dikutip daridesa.com dari Kompas.com (18/07/2026).
Ia melanjutkan, dari 7 desa yang sudah diintervensi Fadmadewi, terdapat 2 desa dengan perkembangan cukup bagus, yaitu Desa Wae Lolos dan Bukit Porong. Sementara itu, desa desa lain masih terus berproses dan dinilai masih membutuhkan waktu dengan berbagai dinamika yang dihadapi.

Dok. Pokdarwis Desa Wisata Wae Lolos via Kompas
Petrus menegaskan, urusan kepariwisataan bukan menjadi tanggung jawab tunggal Dinas Pariwisata, melainkan melibatkan banyak pemangku kepentingan yang turut berperan besar dalam memajukan ekosistem pariwisata.
Sementara itu, Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) berkolaborasi dengan IN-FLORES menyelenggarakan Seminar Nasional Ekowisata Berkelanjutan di Ballroom Crowne Plaza Labuan Bajo, Kamis (16/7/2026). Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan arah pengembangan ekowisata yang berkualitas, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan di Kabupaten Manggarai Barat.
Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo, mengatakan kelembagaan sektor pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat berjalan beriringan dengan transformasi digital. Pemkab Mabar menghadirkan aplikasi Gendang Mabar sebagai wadah promosi berbagai obyek wisata unggulan di luar Taman Nasional Komodo.
“Penguatan kelembagaan pemerintah Kabupaten Manggarai Barat di bidang kepariwisataan kami iringi dengan transformasi digital. Destinasi berkelas dunia tidak bisa lagi dikelola dengan cara konvensional,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama BPOLBF, Andhy Marpaung, menyampaikan seminar tersebut diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi nyata dalam memperkuat ekowisata di Labuan Bajo Flores, dengan harapan dapat menghasilkan gagasan, rekomendasi, dan komitmen bersama yang dapat menjadi pijakan dalam memperkuat pengembangan ekowisata yang berkualitas, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan di Kabupaten Manggarai Barat.
“Karena pada akhirnya, masa depan Labuan Bajo Flores bukan hanya tentang destinasi yang kita bangun, melainkan tentang warisan yang kita tinggalkan bagi generasi mendatang,” ujar Andhy.

