Purwakarta, Jawa Barat – Suasana hangat namun sarat kritik menyelimuti Café Veteran 155, Purwakarta, Minggu (05/07). Puluhan penggiat isu perempuan dan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam kolaborasi Kohati (Kader Perempuan HMI), Sarinah (Kader Perempuan GMNI), dan Kopri (Kader Perempuan PMII) berkumpul dalam Diskusi Publik bertajuk “Membedah Karya: Menggugat Nalar Seksisme dalam Lirik Lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat.”
Acara ini menjadi ruang refleksi kolektif atas maraknya kontroversi yang melibatkan figur publik terkait tindakan yang dinilai merendahkan martabat perempuan.
Diskusi ini menyoroti polemik sanksi sosial yang sempat viral, yakni kewajiban merenovasi rumah janda muda bagi oknum pejabat publik. Banyak kalangan menilai sanksi tersebut kurang solutif dan hanya menjadi ajang pencitraan.
Yayu NH dari Komunitas Swara Saudari menyatakan pandangannya dengan tajam.
“Saya menilai sanksi tersebut jauh dari solusi substantif dan hanya sekadar upaya pencitraan. Sebagai pemimpin, ia seharusnya bertanggung jawab penuh atas kegaduhan yang diciptakannya sendiri,” tegas Yayu.
Ia menambahkan, tindakan tersebut juga mencerminkan kegagalan institusi negara dalam menjalankan amanat konstitusi, khususnya terkait kebijakan afirmatif dan perspektif gender yang mumpuni.
Senada dengan Yayu, Shella Amelia, S.Pd., menyoroti aspek yang lebih personal.
“Hal yang paling mendasar dan menyinggung dalam lagu tersebut adalah liriknya yang secara vulgar melanggengkan budaya patriarki,” ungkapnya.
Perdebatan dalam forum tersebut semakin intens saat Adnan dari Pengurus Cabang PMII Purwakarta mengajak peserta untuk mengedepankan rasionalitas dalam melawan ketidakadilan.
“Kita tidak hanya melawan patriarki, tetapi juga kebodohan. Saya bertanya pada hadirin: apakah kalian merasa dilecehkan? Sanksi sosial tidak cukup hanya dengan membangun rumah janda, karena dampak dari narasi ini dirasakan oleh seluruh perempuan,” ujar Adnan tegas.

Suasana diskusi publik di Café Veteran 155 yang memperlihatkan sinergi lintas organisasi dalam membedah isu perempuan secara mendalam dan terpadu.
Menanggapi aspirasi peserta yang mendesak aksi nyata, Arini Joesoef, Pemimpin Redaksi Nyimpangdotcom, menekankan pentingnya sinergi.
“Upaya ini memerlukan koordinasi erat dengan korban, mengingat sering kali mereka merasa terintimidasi. Namun, kami berkomitmen penuh untuk mengawal, mendampingi, dan membimbing para korban agar berani bersuara,” jelas Arini.
Diskusi yang berlangsung dinamis ini menandai awal dari rangkaian gerakan yang lebih luas. Sarinah Adin, aktivis perempuan dari GMNI, menegaskan bahwa ini adalah langkah awal yang akan terus dikawal oleh elemen mahasiswa perempuan di Purwakarta.
“Ini adalah gebrakan awal, dan dipastikan tidak akan berhenti di sini,” tegasnya.
Kehadiran diskusi ini menjadi pesan kuat bahwa kesadaran kritis perempuan Purwakarta tidak lagi bisa dibungkam. Di tengah maraknya narasi yang merendahkan martabat, kolaborasi ini menegaskan bahwa setiap karya dan kebijakan yang diskriminatif akan terus diawasi, digugat, dan dilawan demi terciptanya ruang publik yang lebih adil serta bermartabat bagi semua.


