SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar Akar & Budaya

Dari Desa Lebak Anyar, Ari Nugraha Kenalkan Wayang Plastik dari Limbah dan Cerita Lokal ke Forum Internasional

Purwakarta, daridesa.com – Muhamad Ari Nugraha, yang akrab disapa Ari, merupakan seorang praktisi seni dan budaya yang berangkat dari Desa Lebak Anyar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Lingkungan desa dengan kehidupan berbasis tradisi menjadi fondasi kuat yang membentuk cara pandangnya terhadap pengetahuan lokal.

Sejak kecil, Ari tidak menyadari bahwa apa yang ia lihat dan dengar dalam keseharian, seperti tradisi, cerita, hingga praktik budaya, merupakan bentuk pengetahuan berharga. Kesadaran itu justru muncul ketika ia merantau ke Bandung dan mulai terlibat dalam dunia seni. Dari sana, ia melihat bahwa banyak pengetahuan desa yang tidak tercatat, kurang dianggap penting, dan perlahan terancam hilang.

Menariknya, perjalanan Ari di dunia seni tidak dimulai dari pendidikan formal seni. Ia menempuh studi di bidang Manajemen Informatika, yang justru membentuk pola pikirnya dalam memahami sistem, data, serta cara penyimpanan dan pengolahan informasi. Ketertarikan terhadap seni rupa tumbuh melalui keterlibatan aktif di komunitas seni di Kota Bandung.

Ari pun menempatkan dirinya bukan sekadar sebagai seniman, melainkan sebagai individu yang berupaya menjaga keberlangsungan pengetahuan, khususnya yang tidak tertulis. Ia mengembangkan pendekatan yang memadukan teknologi, arsip, dan seni sebagai medium ekspresi sekaligus metode penelitian.

Salah satu fokus utama praktiknya adalah pengarsipan pengetahuan tradisional, termasuk pengetahuan tentang Paraji atau praktik kebidanan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat di desa. Ari mendokumentasikan, menulis, dan mengolah pengetahuan tersebut menjadi berbagai bentuk, termasuk esai yang dipublikasikan dalam forum internasional The SEAMEO SPAFA International Conference on Southeast Asian Archaeology and Fine Arts 2024.

Atap Gapura Jalan Perbatasan Desa Rawasari dan Cadasmekar Nyaris Roboh? Warga Minta Perhatian Om Zen dan Abang Ijo

Tak berhenti pada pengarsipan, Ari juga menghadirkan pengetahuan dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat. Ia menggagas WATIK (Wayang Plastik), sebuah pertunjukan dongeng menggunakan boneka dari limbah plastik. Melalui kegiatan ini, ia mengajak anak-anak dan masyarakat untuk mengolah sampah menjadi cerita, sekaligus menciptakan ruang belajar bersama yang kreatif dan berkelanjutan.

Pertunjukan dongeng melalui wayang plastik yang terbuat dari limbah. (Foto: Ari Nugraha)

Inisiatif tersebut mendapat pengakuan luas, termasuk penghargaan sebagai Kelompok Sociopreneur Terbaik dalam Program Kompetisi Proyek Sosial PF Muda 2025 yang diselenggarakan oleh Pertamina Foundation.

Wayang Plastik (WATIK) ide kreatif pemanfaatan limbah/sampah pelastik. (Dok. Ari Nugraha)

Dalam perjalanannya, Ari juga aktif berbagi pengetahuan di berbagai forum internasional. Ia pernah menjadi pembicara dalam konferensi 1st International Conference on Eco-Friendly and Zero Waste (ICEZ) 2024, melalui sesi bertajuk “Storytelling Through Waste for a Sustainable Future”. Selain itu, ia terlibat dalam berbagai workshop dan kolaborasi lintas negara, seperti di Berlin, Polandia, dan Praha.

Saat ini, Ari menjabat sebagai Kepala Program dan Project Development di YIRI ARTS, sebuah galeri seni internasional berbasis di Taiwan yang juga memiliki cabang di Jakarta. Peran ini membawanya berinteraksi dengan ekosistem seni global, mulai dari seniman, kolektor, hingga institusi internasional.

Namun, bagi Ari, posisi tersebut bukan sekadar karier profesional. Ia melihatnya sebagai jembatan untuk membawa pengetahuan dan cerita lokal ke ruang yang lebih luas, agar nilai-nilai dari desa dapat beresonansi di berbagai konteks global.

Dari Desa Wanayasa, Ferry Curtis Gaungkan Literasi Nasional Hingga Ciptakan Mars Perpustakaan RI

Selain aktif berkarya, Ari juga menulis. Salah satu karyanya berangkat dari proyek “Tina Sagara Ka Sagala – Dari Laut Untuk Segala”, yang mengulas hubungan antara seni, lingkungan, dan praktik kolaboratif bersama komunitas seni disabilitas. Saat ini, ia tengah mengerjakan buku kolaborasi bersama praktisi seni asal Polandia, Agnieszka Aleksandra Jankiewicz, berjudul “Tell Me A Story”, yang mengangkat pengalaman pertukaran budaya melalui dongeng.

Bagi Ari, seluruh perjalanan ini bukanlah tentang pencapaian semata, melainkan proses belajar yang terus berlangsung. Ia meyakini bahwa desa bukanlah titik awal yang harus ditinggalkan, melainkan sumber pengetahuan yang harus dirawat dan dibagikan.

“Setiap pengetahuan memiliki kesetaraan yang sama untuk didokumentasikan dan diarsipkan,” ungkap Ari.

Melalui seni, arsip, dan kolaborasi, Ari Nugraha terus berupaya menjaga agar pengetahuan lokal tidak hanya tersimpan, tetapi juga hidup, dirasakan, dan diwariskan dalam kehidupan bersama.

Editor: Hadi Albulaqi

Praktik Pemeriksaan Dana Desa: Maraknya Program Mangkrak

Dari Desa | Membaca Kampung Halaman 

 

× Advertisement
× Advertisement