SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar

Menanam Harapan dari Halaman: SD di Surakarta, Jawa Tengah Wujudkan Kemandirian Pangan Berbasis Potensi Lokal

Siswa dan siswi kelas 4-6 SD Kanisius Pucangsawit saat memanen bayam, pakchoy, caisim dan timun di kebun sekolah

Surakarta, Jawa Tengah – Semangat kemandirian pangan kini mulai dipupuk sejak dini di lingkungan pendidikan. SD Kanisius Pucangsawit, Surakarta, membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk menghadirkan ekosistem pangan mandiri melalui program bertajuk From School Garden to Table.

Dalam program ini, sekolah bertransformasi layaknya sebuah “desa kecil” yang produktif. Para siswa tidak hanya belajar teori di dalam kelas, tetapi terjun langsung ke kebun sekolah untuk memanen hasil bumi berupa bayam, kangkung, caisim, hingga pokchoy. Menariknya, sekolah ini juga mengelola kandang ayam secara mandiri sebagai sumber protein hewani bagi siswa dan guru.

Hasil keringat siswa dari kebun tersebut tidak langsung dijual, melainkan diolah menjadi hidangan sehat khas nusantara, yakni Bubur Manado. Langkah ini merupakan bentuk edukasi nyata agar anak-anak memahami perjalanan panjang makanan dari tanah hingga ke piring (garden to table).

Penyajian dilakukan secara prasmanan dengan menerapkan prinsip gizi seimbang sesuai arahan Kemenkes. Siswa diajak untuk berdaulat atas piringnya sendiri, yakni belajar menakar kebutuhan gizi tanpa menyisakan makanan sedikitpun (zero food waste).

Hasil panen dari kebun sekolah berupa daun gedi, daun bayamn dan telur diolah menjadi bubur Manado dengan lauk tahu, teri krispi, telur rebus, sambel dabu-dabu, buah semangka dan pepaya

Di tengah kepungan makanan cepat saji dan pangan ultra-proses (UPF) yang mendominasi konsumsi anak-anak saat ini, inisiatif SD Kanisius Pucangsawit menjadi satu hal positif yang penting. Melalui kelas gizi bersama pegiat pangan lokal, siswa diberikan pemahaman tentang bahaya zat kimia sintetik dalam makanan pabrikan.

Menakar Potensi Esports Mahasiswa Purwakarta lewat Event AULUS REVAMP

“Urusan makan tidak hanya sekedar menyajikan piring makanan kepada siswa atau anak saja, akan tetapi harus dirancang agar anak memiliki kebiasaan baik dan makan secara berkesadaran” Ujar Britania Sari, seorang pegiat mandiri pangan, urban farmer, sekaligus praktisi zero waste yang inspiratif.

Pendidikan berbasis pangan lokal ini selaras dengan upaya pemberdayaan masyarakat, di mana kemandirian konsumsi dimulai dari lingkup terkecil. Keuntungan dari penjualan Modul Edukasi Gizi yang menyertai program ini pun disalurkan untuk membantu biaya pendidikan siswa dari keluarga pra-sejahtera, sebuah siklus gotong royong yang menjadi napas pembangunan masyarakat.

Kegiatan kolaboratif yang didukung oleh komunitas Feed 360 Solo ini diharapkan menjadi pemicu bagi instansi lain maupun wilayah-wilayah di tingkat desa untuk mengoptimalkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga.

Dengan mengenalkan kedaulatan pangan sejak dini, sekolah ini tengah menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran kritis terhadap lingkungan dan keberlanjutan hidup melalui kearifan pangan lokal.

Berita Dari Desa | Membangun Kampung Halaman

Rhana Cahya Nugraha Pimpin Komite Ekraf Purwakarta Periode 2026-2031

× Advertisement
× Advertisement