SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasional

IPB: Dana Desa Diproyeksikan Menurun, Desa Berpotensi Kehilangan Kesempatan Membangun

Dana Desa Diproyeksikan Menurun, Desa Berpotensi Kehilangan Kesempatan Membangun (Ilustrasi)
Dana Desa Diproyeksikan Menurun, Desa Berpotensi Kehilangan Kesempatan Membangun (Ilustrasi)

Nasional – Besaran Dana Desa diproyeksikan terus menurun dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini dikhawatirkan akan mengurangi kapasitas desa untuk membangun infrastruktur dan layanan dasar apabila tidak diimbangi dengan sumber pendanaan lain.

Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB University, Ivanovich Agusta, memaparkan Dana Desa yang sebelumnya dapat mencapai sekitar Rp930 juta per desa diperkirakan turun menjadi sekitar Rp345 juta per desa pada 2026. Bahkan menurut proyeksinya, pada 2031 rata rata Dana Desa yang diterima hanya sekitar Rp79 juta per desa, sebelum kembali meningkat pada tahun berikutnya.

“Baru nanti di 2032 mungkin naik jadi Rp500 juta per desa. Desa masih butuh untuk membangun, tetapi mereka mulai kekurangan material finansial. Nah, ini adalah kesempatan membangun desa yang hilang ketika Dana Desa kemudian dialihkan untuk KDKMP,” ungkap Ivanovich Agusta, dikutip daridesa.com dari kompas.com (14/07/2026).

Ivanovich memperkirakan penurunan Dana Desa hingga 2032 berpotensi menghambat berbagai program pembangunan di desa. Salah satunya, sekitar 2.800 pasar desa diperkirakan gagal dibangun sehingga berpotensi menghambat pertumbuhan sekitar 340.000 wirausaha desa.

Selain itu, sekitar 47.000 hektare lahan sawah berisiko mengalami kesulitan irigasi akibat tertundanya pembangunan embung dan jaringan pengairan. Minimnya anggaran juga diperkirakan meningkatkan kerentanan sekitar 4.500 desa terhadap bencana tanah longsor, karena pembangunan infrastruktur mitigasi perubahan iklim tidak dapat dilakukan secara optimal.

Tak Lagi Dilatih Militer, Calon Manajer Kopdes Kini Dibekali Materi Ketahanan Pangan

“Kalau kita melihat musibah hidrologi semakin banyak karena infrastruktur sulit dibangun, maka kemungkinan 4.500 desa ini semakin tinggi risikonya mengalami bencana tanah longsor,” katanya.

Di samping itu, pembangunan berbagai fasilitas dasar seperti mandi cuci kakus (MCK), pondok bersalin desa (Polindes), drainase, pendidikan anak usia dini (PAUD), dan pos pelayanan terpadu (Posyandu) turut berpotensi terhambat. Meski begitu, Dana Desa 2026 tetap diprioritaskan untuk mendukung desa tangguh bencana dan berketahanan iklim, antara lain lewat pengelolaan sampah, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, pengendalian banjir dan longsor, serta rehabilitasi mangrove.

× Advertisement
× Advertisement