SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akar & Budaya Blog

Kisah Pak Tri dan Bu Uti Mengubah Halaman Jadi Sumber Pangan

Pak Tri dan Bu Uti, warga Berbah, Sleman, Yogyakarta. Sulap pekarangan rumah jadi tempat berkebun. (Foto: Ist)

Sleman, daridesa.com – Inilah realita yang dijalani oleh pasangan suami istri, Pak Tri dan Bu Uti, warga Berbah, Sleman, Yogyakarta. Menyulap sebuah lahan liar yang dulunya dipenuhi semak tinggi dan rawan menjadi sarang ular, kini berubah menjadi kebun produktif yang menyejukkan mata sekaligus menghidupi keluarga. Transformasi ini berawal dari langkah sederhana Pak Tri yang menyewa dan membersihkan lahan di depan rumahnya demi keamanan.

Tak berhenti di situ, bersama Bu Uti, ia melihat potensi lebih besar dari sekadar lahan kosong. Meski tanpa pengalaman bertani, keduanya nekat belajar secara mandiri lewat berbagai sumber digital, terutama YouTube. Prinsip yang mereka pegang pun sederhana: mulai dari apa yang ada, lakukan apa yang bisa.

Seiring waktu, lahan tersebut berkembang menjadi kebun terpadu berbasis integrated farming. Tak hanya menanam sayuran, mereka juga memelihara ayam jenis Elba dalam kandang yang tertata rapi dan estetis. Limbah ternak dimanfaatkan kembali menjadi pupuk organik, menciptakan siklus yang berkelanjutan.

Untuk menekan biaya produksi, Pak Tri dan Bu Uti juga menanam tanaman pakan alami seperti Azolla, Lemna, dan Indigofera. Hasilnya, kebutuhan pakan ayam dan ikan bisa dipenuhi tanpa bergantung sepenuhnya pada pakan pabrikan.

Beragam sayuran tumbuh subur di kebun ini  mulai dari kangkung, bayam, tomat, hingga cabai dan pare  cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari. Namun, manfaat kebun ini tak hanya soal pangan.

Dari Desa Lebak Anyar, Ari Nugraha Kenalkan Wayang Plastik dari Limbah dan Cerita Lokal ke Forum Internasional

Lebih dari itu, kebun menjadi ruang edukasi bagi anak-anak mereka. Aktivitas harian seperti membersihkan kandang dan merawat tanaman secara perlahan menanamkan nilai tanggung jawab serta kepedulian terhadap lingkungan. Waktu bermain gawai pun berkurang, tergantikan dengan interaksi langsung bersama alam.

Bagi Pak Tri dan Bu Uti, berkebun juga menghadirkan ketenangan batin. Mereka menyebutnya sebagai proses belajar kesabaran, di mana hasil tak bisa instan, namun selalu sepadan dengan usaha.

Kesadaran terhadap pengelolaan limbah pun tumbuh. Sisa dapur seperti cangkang telur dan sayuran kini diolah menjadi kompos atau pakan ternak, menjadikan hampir tak ada yang terbuang sia-sia.

Kisah ini menjadi gambaran nyata bahwa kemandirian pangan bisa dimulai dari langkah kecil di rumah sendiri. Tak perlu menunggu sempurna, cukup mulai  karena dari ketekunan, hasil akan mengikuti. Tonton konten inspiratif Pak Tri dan Bu Uti di https://www.instagram.com/bu_utiq?igsh=am9sMmJpbWVqNnhq. (Red)

Dari Desa | Membaca Kampung Halaman

Mengenal Budaya Sunda di Kampung Naga Desa Neglasari Tasikmalaya

× Advertisement
× Advertisement