SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Blog

KOPEL Bersama BEM se-Muttaqien Gelar Nobar dan Diskusi Kritis Film Dokumenter “Pesta Babi”

Suasana pemutaran film dokumenter Pesta Babi (2026) karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale di Auditorium STAI DR. KH.EZ. Muttaqien. Kendati dibayangi isu pelarangan di berbagai daerah, agenda pemutaran Film ini tetap berjalan kondusif. (Foto: Dok. KOPEL)

Purwakarta, Jawa Barat — Semangat kritis kalangan mahasiswa, aktivis serta masyarakat di Kabupaten Purwakarta tidak surut meski cuaca kurang mendukung. Komunitas Pena dan Lensa (KOPEL) sukses menggelar acara Nonton Bareng (Nobar) dan Diskusi Film Dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”. Kegiatan kolektif ini dilaksanakan atas kolaborasi bersama beberapa organisasi mahasiswa, yakni BEM FTIK UNISMU, BEM FEB UNISMU, BEM FH UNISMU, dan DEMA STAI Dr. KHEZ Muttaqien.

Semula, panitia merencanakan pemutaran film di halaman kampus. Namun, beberapa detik setelah film diputar, hujan mulai turun membasahi lokasi terbuka tersebut. Kondisi ini memaksa panitia memindahkan seluruh rangkaian acara ke Auditorium STAI Dr. Khez Muttaqien Purwakarta. Kendati harus berpindah tempat, perubahan situasi tersebut sama sekali tidak menghalangi antusiasme para peserta yang hadir—baik dari kalangan mahasiswa, aktivis, maupun masyarakat umum—untuk menyaksikan film tersebut hingga tuntas.

Film dokumenter “Pesta Babi” sendiri merupakan karya  yang memaparkan data dan informasi mengenai realitas sosial serta isu ketidakadilan di Tanah Papua.

Koordinator Aliansi BEM Purwakarta, Habibi, yang hadir sebagai salah satu pemantik diskusi, menyampaikan keprihatinannya yang mendalam terhadap realitas tersebut. Ia menilai kebijakan yang diambil sering kali berjalan sepihak tanpa melibatkan masyarakat lokal.

“Kondisi yang terjadi di Papua saat ini sangat memprihatinkan. Hal yang membuatnya kian ironis adalah sama sekali tidak adanya koordinasi dengan masyarakat adat setempat. Pemerintah dalam hal ini tidak boleh bertindak sewenang-wenang atas kuasa yang dimilikinya,” ujar Habibi.

Ilham Taufik Pemuda Desa Wanasari Go Internasional Conference di 3 Negara

Lebih lanjut, Habibi mengingatkan peran penting mahasiswa sebagai penggerak perubahan untuk terus menyuarakan kritik terhadap ketimpangan sosial yang ada.

“Sebagai agen perubahan (agent of change), mahasiswa jangan pernah berhenti menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan yang terjadi, khususnya di Papua dan umumnya di negara kita,” tambahnya.

Sementara itu, Yudi Agustia, seorang sineas sekaligus jurnalis yang akrab disapa Om Yudi, memaparkan esensi dari film dokumenter tersebut dari sudut pandang karya visual dan jurnalistik. Menurutnya, karya ini diproduksi dengan tujuan utama untuk memantik kesadaran dan sikap nyata dari para penontonnya.

“Karya ini merupakan sebuah film dokumenter yang memaparkan hasil data serta informasi faktual untuk dipublikasikan kepada khalayak luas. Tujuannya adalah agar kita semua mampu mengambil sikap yang tegas,” jelas Yudi Agustia.

Yudi juga menekankan bahwa penonton tidak boleh berhenti pada respons emosional atau sekadar menjadikannya bahan obrolan biasa setelah keluar dari ruang pemutaran film.

Menko Yusril Pastikan Tak Ada Larangan Nobar Film ‘Pesta Babi’, Ajak Masyarakat Kritis dan Berdebat

“Saya melihat film ini memang tidak menyajikan solusi instan, sebab seorang dokumenteris sejatinya mengajak kita semua untuk bersikap. Ketika pulang dari ruang pemutaran, respons kita tidak boleh sebatas bercerita bahwa filmnya seru atau sedih, melainkan harus memikirkan langkah nyata apa yang akan kita lakukan untuk melawan ketidakadilan ini,” tegasnya.

Suasana forum diskusi yang menghadirkan Habibi (kiri, kemeja biru muda) dan Om Yudi (tengah) sebagai narasumber, dipandu oleh Hadad (kanan) selaku moderator. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium STAI DR. KH. EZ. Muttaqien, Purwakarta, untuk membahas film dokumenter “Pesta Babi”. (Foto Dok. KOPEL)

Suasana auditorium semakin hangat ketika acara memasuki sesi diskusi interaktif. Para peserta tampak bergantian memberikan tanggapan, mengajukan pertanyaan, serta membedah lebih dalam pesan moral yang disampaikan oleh kedua pemantik mengenai isu ketidakadilan dan peran pemuda di masa kini.

Setelah ruang diskusi dan tanya jawab interaktif antara pemantik dan peserta selesai, acara dilanjutkan dengan penampilan seni. Sejumlah anggota KOPEL, yakni Adid, Rafli, dan Anam, naik ke atas panggung untuk membawakan pembacaan puisi yang sarat akan pesan kemanusiaan. Seluruh rangkaian kegiatan malam itu kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara penyelenggara, pemantik, dan seluruh peserta yang masih bertahan sampai akhir acara. (Red)

sesi foto bersama antara penyelenggara dan peserta Nonton Bareng, di dalam Auditorium STAI Dr. KHEZ Muttaqien. (Foto Dok. KOPEL)

× Advertisement
× Advertisement