Purwakarta, Jawa Barat — Semangat kritis kalangan pelajar, aktivis serta masyarakat di Kabupaten Purwakarta tidak surut meski cuaca kurang mendukung. Komunitas Pena dan Lensa (KOPEL) sukses menggelar acara Nonton Bareng (Nobar) dan Diskusi Film Dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”. Kegiatan kolektif ini dilaksanakan atas kolaborasi bersama beberapa organisasi mahasiswa, yakni BEM FTIK UNISMU, BEM FEB UNISMU, BEM FH UNISMU, dan DEMA STAI Dr. KHEZ Muttaqien.
Semula, panitia merencanakan pemutaran film di halaman kampus. Namun, beberapa detik setelah film diputar, hujan mulai turun membasahi lokasi terbuka tersebut. Kondisi ini memaksa panitia untuk memindahkan seluruh rangkaian acara ke Auditorium STAI Dr. Khez Muttaqien Purwakarta. Kendati harus berpindah tempat, mengubah situasi tersebut sama sekali tidak mengganggu antusiasme para peserta yang hadir—baik dari kalangan pelajar, aktivis, maupun masyarakat umum—untuk menyaksikan film tersebut hingga tuntas.
Film dokumenter “Pesta Babi” sendiri merupakan karya yang memaparkan data dan informasi mengenai realitas sosial serta isu ketidakadilan di Tanah Papua.
Koordinator Aliansi BEM Purwakarta, Habibi, yang hadir sebagai salah satu pemantik diskusi, menyampaikannya secara mendalam terhadap realitas tersebut. Ia menilai kebijakan yang diambil sering kali berjalan sepihak tanpa melibatkan masyarakat lokal.
“Kondisi yang terjadi di Papua saat ini sangat memprihatinkan. Hal yang membuatnya kian ironis adalah sama sekali tidak adanya koordinasi dengan masyarakat adat setempat. Pemerintah dalam hal ini tidak boleh bertindak sewenang-wenang atas kekuasaan yang dimilikinya,” ujar Habibi.
Lebih lanjut, Habibi berperan mengingatkan pentingnya mahasiswa sebagai penggerak perubahan untuk terus menyuarakan kritik terhadap ketimpangan sosial yang ada.
“Sebagai agen perubahan (agent of change), mahasiswa jangan pernah berhenti menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan yang terjadi, khususnya di Papua dan umumnya di negara kita,” tambahnya.
Sementara itu, Yudi Agustia, seorang sineas sekaligus jurnalis yang akrab disapa Om Yudi, memaparkan esensi dari film dokumenter tersebut dari sudut pandang karya visual dan jurnalistik. Menurutnya, karya ini diproduksi dengan tujuan utama untuk memantik kesadaran dan sikap nyata para penontonnya.
“Karya ini merupakan sebuah film dokumenter yang menampilkan hasil data serta informasi faktual untuk dipublikasikan kepada khalayak luas. Tujuannya agar kita semua mampu mengambil sikap yang tegas,” jelas Yudi Agustia.
Yudi juga menekankan bahwa penonton tidak boleh berhenti pada respons emosional atau sekadar menjadi bahan percakapan biasa setelah keluar dari ruang pemutaran film.
“Saya melihat film ini memang tidak menyajikan solusi instan, karena sebuah dokumenter sejatinya mengajak kita semua untuk berdoa. Ketika pulang dari ruang pemutaran, respon kita tidak boleh sebatas bercerita bahwa filmnya seru atau sedih, melainkan harus memikirkan langkah nyata apa yang akan kita lakukan untuk melawan ketidakadilan ini,” tegasnya.

Suasana forum diskusi yang menghadirkan Habibi (kiri, kemeja biru muda) dan Om Yudi (tengah) sebagai narasumber, dipandu oleh Hadad (kanan) selaku moderator. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium STAI DR. KH. EZ. Muttaqien, Purwakarta, untuk membahas film dokumenter “Pesta Babi”. (Foto Dok. KOPEL)
Suasana auditorium semakin hangat ketika acara memasuki sesi diskusi interaktif. Para peserta tampak bergantian memberikan tanggapan, mengajukan pertanyaan, serta membedah lebih dalam pesan moral yang disampaikan oleh kedua pemantik mengenai isu ketidakadilan dan peran pemuda di masa kini.
Setelah ruang diskusi dan tanya jawab interaktif antara pemantik dan peserta selesai, acara dilanjutkan dengan penampilan seni. Sejumlah anggota KOPEL, yakni Adid, Rafli, dan Anam, naik ke atas panggung untuk membawakan pembacaan puisi yang sarat akan pesan kemanusiaan. Seluruh rangkaian acara malam itu kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara penyelenggara, pemantik, dan seluruh peserta yang masih bertahan sampai akhir acara. (Merah)

sesi foto bersama antara penyelenggara dan peserta Nonton Bareng, di dalam Auditorium STAI Dr. KHEZ Muttaqien. (Foto Dok.KOPEL)


