SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar

Ditolak Semua Bank, Masril Koto Justru Sukses Mendirikan Bank Sendiri untuk Petani

Ditolak Semua Bank, Masril Koto Justru Mendirikan Bank Sendiri untuk Petani
Ditolak Semua Bank, Masril Koto Justru Mendirikan Bank Sendiri untuk Petani

Padang, Sumatra Barat – Jika kasus di Jember menunjukkan bagaimana bank bisa dikhianati dari dalam, kisah Masril Koto justru berbanding terbalik. Pria asal Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, ini lahir dari keluarga petani dan hanya sempat mengenyam pendidikan formal hingga kelas 4 Sekolah Dasar karena keterbatasan ekonomi.

Sebagai petani, Masril paham betul kesulitan yang dihadapi rekan rekannya, yaitu sulitnya akses pembiayaan dari bank. Ia sempat berulang kali mendatangi kantor bank di Bukittinggi untuk mencari cara membuat lembaga keuangan sendiri, namun selalu pulang tanpa hasil karena bank bank tersebut tidak memiliki program semacam itu.

“Jadi sebenarnya kecewa. Karena kalau mau ngajukan KUR sama kayak bikin sertifikat prosesnya. Tahu saja orang di sana itu tak punya sertifikat,” ungkap Masril Koto, dikutip daridesa.com dari detik.com.

Alih alih menyerah, Masril justru mendatangi Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Barat di Padang. Idenya disambut baik, dan ia disarankan mendirikan lembaga keuangan dengan format Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA). Bermodalkan patungan sekitar Rp600 ribu bersama sesama petani sejak 2002, Masril kemudian resmi mendirikan LKMA Prima Tani atau yang dikenal sebagai Bank Tani pada 2006.

Bank yang dibangun berdasarkan asas kekeluargaan ini terus berkembang, dengan saham dimiliki para orang tua petani sementara pekerjanya adalah anak anak mereka sendiri. Dari modal awal yang bahkan sempat habis hanya dalam 15 menit karena langsung dipinjamkan kepada petani, LKMA Prima Tani kini telah memiliki ratusan unit yang tersebar di seluruh Sumatera Barat dengan aset mencapai Rp100 miliar.

Ratusan Tahun Terjaga, Sakralnya Ngaruwat Bumi di Desa Parakan Garokgek, Purwakarta

Sistem LKMA yang dirintis Masril kemudian diadopsi pemerintah dan menjadi cikal bakal Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) secara nasional. Kisah pria yang tidak tamat SD ini pun menjadi salah satu inspirasi terbesar dalam dunia wirausaha sosial di Indonesia, membuktikan bahwa keterbatasan pendidikan formal bukanlah penghalang untuk menciptakan perubahan besar yang berdampak bagi ratusan ribu orang.

× Advertisement
× Advertisement