Purwakarta, Jawa Barat — Masyarakat adat di Desa Parakan Garokgek, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, kembali menggelar tradisi Ngaruwat Bumi (Ruwatan Bumi) pada Selasa (14/7/2026). Upacara adat yang telah dijaga selama ratusan tahun ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat agraris Sunda atas hasil panen, sekaligus penghormatan kepada leluhur dan permohonan agar tanah pertanian senantiasa subur.
Konsistensi masyarakat dalam merawat warisan leluhur ini mendapat apresiasi tinggi. Saat ini, Desa Parakan Garokgek telah resmi diakui dan ditetapkan sebagai Desa Budaya oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Rangkaian Ngaruwat Bumi memiliki prosesi yang panjang dan sarat makna. Kegiatan diawali dengan mamarung, yakni persiapan menuju acara puncak ritual. Pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian calung. Keesokan paginya, masyarakat melaksanakan kirab menuju lokasi utama upacara adat untuk melangsungkan prosesi ritual yang meliputi tawasul, pembagian hadiah, hingga puncaknya penyerahan tumbal.
Setelah ritual adat selesai, warga menggelar botram (makan bersama) yang dilanjutkan dengan doa bersama. Acara ini kemudian ditutup dengan kemeriahan pagelaran sisingaan dan pertunjukan tari jaipong.
Di antara seluruh rangkaian yang digelar, prosesi penyerahan tumbal menjadi momen yang paling sakral. Tumbal dalam upacara ini diwujudkan melalui penyembelihan hewan peliharaan yang telah dirawat secara khusus sedari kecil oleh warga.
Tokoh pemuda Desa Garokgek, Asep Wawan atau yang akrab disapa Aswan, menjelaskan bahwa prosesi tumbal memiliki makna filosofis yang sangat mendalam mengenai eksistensi manusia dan alam semesta.
“Acara yang paling sakralnya adalah tumbal, yaitu proses menyembelih hewan peliharaan yang dirawat selagi kecil. Pesan dari ritual adat tersebut adalah untuk mengingatkan kita kembali bahwa kita berasal dari tanah,” ujar Aswan di lokasi acara, Selasa (14/7/2026).
Aswan menambahkan, ada simbolisme kuat saat darah hewan yang disembelih tersebut menyentuh bumi.
“Darah yang keluar dari hewan tersebut langsung tumpah ke tanah. Hal ini mengingatkan kita bahwa darah yang mengalir di tubuh kita pada dasarnya adalah berasal dari tanah, dan kelak akan kembali ke tanah,” tegasnya.
Melalui tradisi Ngaruwat Bumi, masyarakat Desa Parakan Garokgek tidak hanya sekadar melestarikan kesenian dan budaya leluhur, tetapi juga terus merawat nilai-nilai spiritual tentang keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Berita Dari Desa | Membangun Kampung Halaman


