Indramayu, Jawa Barat – Di tengah tantangan pembangunan desa yang semakin kompleks, dibutuhkan sosok yang tidak hanya mampu menyusun perencanaan, tetapi juga hadir langsung mendampingi masyarakat. Bagi Hilmi Hilmansyah, S.T., M.P.W.K., pembangunan bukan sekadar menghadirkan infrastruktur, melainkan membangun manusia, memperkuat kelembagaan, dan mengoptimalkan potensi lokal agar mampu tumbuh secara mandiri.
Pemuda asal Kabupaten Indramayu ini, adalah lulusan bidang Perencanaan Wilayah dan Kota, dikenal sebagai praktisi pembangunan yang aktif menginisiasi berbagai program pemberdayaan masyarakat di sejumlah wilayah. Fokus utamanya adalah menciptakan desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, hingga media.
Menurut Hilmi, setiap desa memiliki kekuatan yang berbeda. Karena itu, pembangunan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam. Potensi alam, sumber daya manusia, budaya, hingga karakter masyarakat harus menjadi titik awal dalam merancang program pembangunan yang benar-benar memberikan manfaat jangka panjang.
Prinsip tersebut kemudian diterapkan dalam berbagai inisiatif yang ia kembangkan. Salah satunya adalah pengembangan Ekowisata Mangrove Kali Nippon di Kabupaten Indramayu. Program ini tidak hanya berorientasi pada pengembangan destinasi wisata, tetapi juga mengintegrasikan konservasi kawasan pesisir, mitigasi abrasi, edukasi lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
Melalui kolaborasi dengan BEM Vokasi Universitas Indonesia dan berbagai pemangku kepentingan, kawasan mangrove dikembangkan menjadi ruang belajar sekaligus sumber penghasilan baru bagi masyarakat.
Komitmen Hilmi terhadap pemberdayaan masyarakat juga terlihat melalui program budidaya maggot berbasis pemuda desa. Berangkat dari persoalan limbah organik yang belum termanfaatkan secara optimal, ia mendorong generasi muda untuk mengolah sampah menjadi pakan alternatif yang memiliki nilai ekonomi.
Program tersebut tidak berhenti pada pelatihan teknis, tetapi juga dilengkapi dengan pendampingan usaha, penguatan kelembagaan kelompok, hingga pengembangan model bisnis agar mampu berkembang secara berkelanjutan.
Di era digital, Hilmi juga aktif memperkuat kapasitas masyarakat desa melalui berbagai pelatihan literasi digital. Ia mendorong generasi muda agar mampu memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi produk UMKM, potensi wisata desa, hingga membangun citra positif daerahnya.
Baginya, kemampuan berkomunikasi di ruang digital menjadi modal penting agar desa mampu bersaing dan dikenal lebih luas.
Pengalaman lainnya adalah mendampingi pemerintah desa dalam memperkuat tata kelola pemerintahan. Ia terlibat dalam pendampingan penyusunan usulan Bantuan Keuangan Desa Provinsi Jawa Barat, penguatan kapasitas aparatur desa dalam perencanaan pembangunan, hingga pemanfaatan sistem informasi pemerintahan daerah.
Pendampingan tersebut diarahkan agar pemerintah desa semakin adaptif terhadap perubahan regulasi sekaligus mampu menyusun program pembangunan yang lebih terarah.
Tidak berhenti pada aspek pemerintahan, Hilmi juga aktif mengembangkan program kewirausahaan desa. Melalui pelatihan ekonomi kreatif, pengembangan jejaring pemasaran produk lokal, serta membangun kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan pelaku usaha, ia berupaya menciptakan ruang tumbuh bagi pelaku usaha desa, khususnya generasi muda.
Bagi Hilmi, keberhasilan pembangunan desa bukan hanya diukur dari banyaknya proyek yang selesai dikerjakan, melainkan dari lahirnya masyarakat yang memiliki kapasitas, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk mengelola potensi yang dimiliki secara mandiri.
Dengan pengalaman yang dimiliki dalam bidang perencanaan wilayah, pemberdayaan masyarakat, pengembangan ekonomi lokal, hingga inovasi sosial, Hilmi Hilmansyah terus berupaya menghadirkan pendekatan pembangunan yang partisipatif. Baginya, desa bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek utama yang menentukan arah masa depannya sendiri. (Red)


