Kabar Jelajah Desa

Perjelas Batas Wilayah, Mahasiswa KSM-T UNISMA Pasang Plang Administrasi Di Wringinsongo

Seorang mahasiswa KSM-T UNISMA Kelompok 29 tengah memasang plang penanda batas wilayah di area persawahan Desa Wringinsongo.

Malang, daridesa.com – Upaya penataan wilayah desa menjadi fokus utama bagi mahasiswa Kandidat Sarjana Mengabdi Tematik (KSM-T) Universitas Islam Malang (UNISMA) Kelompok 29. Melalui program kerja yang dilakukan di Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, para mahasiswa menghadirkan solusi konkret berupa pembuatan dan pemasangan plang pembatas desa guna memberikan kejelasan administratif bagi masyarakat.

Langkah ini diambil sebagai respons atas aspirasi warga setempat yang kerap merasakan ketidakjelasan batas wilayah. Bapak Fauzi, salah satu penduduk Desa Wringinsongo, menceritakan bahwa selama ini pembatas fisik antara desanya dengan Desa Glanggang tidak terlihat jelas, sehingga banyak orang dari luar daerah yang sering tersesat saat melintas di kawasan tersebut. Berangkat dari keluhan itulah, tim KSM-T UNISMA berinisiatif merancang penanda wilayah yang permanen.

Rencana ini disambut baik oleh pihak perangkat desa yang mengakui bahwa beberapa titik strategis memang belum memiliki penanda resmi. Dukungan penuh dari pemerintah desa menjadi lampu hijau bagi mahasiswa untuk memulai proses pengerjaan, mulai dari perencanaan desain yang informatif, persiapan bahan bangunan, hingga tahap penyelesaian akhir. Kerja sama yang apik antara mahasiswa dan perangkat desa memastikan lokasi pemasangan tepat sasaran pada titik-titik krusial yang paling membutuhkan penanda.

Selain berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi masyarakat dan pendatang, keberadaan plang ini juga memiliki peran strategis dalam memperkuat identitas wilayah. Dengan adanya papan informasi yang jelas, masyarakat diharapkan dapat lebih mengenali batas administratif tempat tinggal mereka, yang secara tidak langsung menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap desa. Proses pemasangan pun dilakukan secara gotong royong, memperlihatkan sinergi yang kuat antara dunia akademis dan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Bagi para mahasiswa, pengabdian ini bukan sekadar tugas kampus, melainkan ruang untuk mengasah kepekaan sosial serta kemampuan berkomunikasi langsung dengan masyarakat. Melalui kegiatan ini, mereka belajar bagaimana mengelola program kerja yang berdampak panjang dan bermanfaat bagi fasilitas publik. Harapannya, plang pembatas yang telah terpasang dapat dijaga dengan baik oleh warga sekitar agar fungsinya sebagai sarana informasi administratif dapat terus dirasakan manfaatnya hingga masa mendatang.

Pesan Bupati Aep untuk 9 Kades Baru: Sumpah Bukan Sekadar Kata, Buktikan Dengan Kerja Nyata

Dari Desa | Membangun Kampung Halaman