Purwakarta, Jawa Barat – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh setiap tanggal 2 Mei kembali menjadi momentum refleksi mendalam bagi dunia pendidikan Indonesia. Bukan sekadar seremonial untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantara, Hardiknas tahun ini disoroti sebagai sebuah “alarm” penting mengenai kekuatan literasi dan keberanian menuangkan gagasan di tengah gempuran era digital.
Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya diperjuangkan melalui kontak fisik, tetapi juga melalui tajamnya pena. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau yang lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, membuktikan hal tersebut melalui esai legendarisnya yang berjudul “Als ik eens Nederlander was” atau “Seandainya Aku Seorang Belanda”.
Tulisan tersebut merupakan bukti autentik bahwa kata-kata di tangan orang yang berani bukan lagi sekadar teks biasa, melainkan senjata yang sangat ditakuti oleh kekuasaan kolonial Belanda pada masa itu.
Anis Nurvita Dewi, S.Pd., seorang praktisi pendidikan sekaligus Leader Smartfren Community, menjelaskan bahwa kritik pedas Ki Hajar terhadap perayaan kemerdekaan Belanda di atas tanah jajahan menunjukkan betapa tulisan memiliki kekuatan destruktif terhadap ketidakadilan sekaligus konstruktif dalam membangun kesadaran massa.
Dampak dari tulisan tersebut pun tidak main-main, karena Ki Hajar akhirnya dianggap sebagai ancaman nyata dan diasingkan oleh pemerintah kolonial.
“Namun, terdapat sebuah ironi yang cukup mencolok pada masa sekarang. Meskipun akses untuk menulis kini terbuka sangat lebar melalui media sosial hingga berbagai platform digital, hambatan yang muncul justru bergeser dari risiko fisik menjadi risiko psikologis. Jika dahulu penulis bertaruh nyawa dan kebebasan, saat ini banyak orang justru terjebak dalam rasa tidak percaya diri dan perasaan bahwa tulisannya tidak bernilai.” Ujar Anis Nurvita Dewi dalam keteranganya, Sabtu (2/5)
Fenomena overthinking serta ketakutan bahwa tidak akan ada yang membaca membuat banyak ide cemerlang akhirnya berakhir membusuk di folder draf yang tak pernah terselesaikan.
Lebih lanjut, kecemasan akan dianggap bodoh, takut dikritik, hingga ketakutan disalahpahami oleh publik menjadi penghambat utama bagi lahirnya pemikiran-pemikiran baru. Padahal, jika berkaca pada perjuangan Ki Hajar Dewantara, sebuah tulisan hebat selalu lahir dari rahim keberanian dan kejujuran.”
“Oleh karena itu, Hardiknas harus menjadi titik balik bagi generasi sekarang untuk berani berpikir kritis dan segera menuangkan ide-ide mereka tanpa perlu menunggu untuk menjadi sempurna.”
Anis menekankan bahwa segala sesuatu yang besar selalu dimulai dari langkah yang sederhana. Generasi saat ini diharapkan mampu bertransformasi dari sekadar konsumen informasi atau pembaca menjadi produsen informasi atau penulis.
Satu paragraf sederhana yang ditulis hari ini memiliki potensi untuk melahirkan perubahan besar yang tak terduga di masa depan. Pada akhirnya, tantangan utama bagi kita saat ini bukan lagi terletak pada pertanyaan bisa atau tidak bisa menulis, melainkan pada keberanian untuk memulai dan menyampaikan opini kepada dunia.
Berita Dari Desa | Membangun Kampung Halaman


