Samarinda, Kalimantan Timur – Terletak sekitar 23 kilometer dari pusat Kota Samarinda, Desa Budaya Pampang berdiri kokoh sebagai ruang hidup yang merawat memori kolektif Suku Dayak Kenyah. Desa ini bermula dari migrasi besar masyarakat pedalaman Kalimantan pada dekade 1960-an yang mencari ruang hidup baru tanpa melepaskan nilai-nilai leluhur.
Pengakuan resmi sebagai desa budaya pada awal 1990-an mempertegas posisi kawasan ini sebagai simpul penting antara pelestarian adat dan ruang edukasi bagi masyarakat modern di Bumi Etam.
Kehidupan di Pampang berpusat pada Lamin Pamung Tawai, sebuah rumah panjang yang menjadi panggung bagi narasi-narasi besar melalui tarian Hudoq dan Kancet Papatai. Di balik pementasan tersebut, tersimpan makna mendalam tentang siklus panen dan penghormatan pada alam yang terus diwariskan.
Fotografer dan pemerhati kota kreatif, Galih Sedayu, memberikan catatan penting bahwa kekuatan desa ini terletak pada bagaimana budaya tetap dipraktikkan dalam keseharian, mulai dari bertani hingga menganyam, yang dilakukan dengan penuh kebanggaan oleh warganya.
Keaslian identitas di desa ini kian nyata dengan kehadiran para tetua yang membawa guratan tato tradisional sebagai penanda identitas lintas generasi.

Deretan penari muda di Lamin Pamung Tawai mementaskan tari Kancet Papatai. Diiringi gerakan lincah dan hentakan kaki, mereka berbusana adat lengkap dengan ‘kirip’ (pakaian anyaman rotan) dan ‘talawang’ (perisai) yang dihiasi ukiran khas Dayak.
Keteguhan masyarakat dalam menjaga jati diri di tengah arus modernitas menjadi bukti bahwa tradisi bukan sekadar artefak masa lalu. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Galih Sedayu dalam catatannya, beliau menegaskan bahwa di Pampang, tradisi bukan sekadar dikenang namun ia hidup, tumbuh, dan diwariskan, seperti hutan yang tak pernah berhenti bernapas.
Berita Dari Desa | Membaca Kampung Halaman


