Wonosobo, daridesa.com – Semangat melestarikan sejarah lokal kian membara di lereng Gunung Sindoro. Pemerintah Desa Pagerjo, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, secara resmi memberikan identitas baru bagi fasilitas publik mereka. Gedung Serbaguna dan Gedung Kesenian di wilayah tersebut kini menyandang nama Raden Mas (RM) Sundoro.
Langkah ini bukan sekadar penamaan biasa, melainkan penghormatan mendalam terhadap Sri Sultan Hamengkubuwono II (HB II), yang masa mudanya dikenal dengan nama RM Sundoro dan memiliki ikatan batin kuat dengan Dusun Pagerotan.
Peresmian nama ini dikukuhkan melalui Berita Acara Nomor 602/59/2026. Kepala Desa Pagerjo, Lukmadi, menegaskan bahwa keputusan ini lahir dari aspirasi kolektif warga melalui musyawarah desa yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.
“Kami, Pemerintah Desa Pagerjo, telah melaksanakan musyawarah desa terkait penamaan Gedung Serba Guna dan Gedung Kesenian yang berlokasi di Dusun Pagerotan. Seluruh peserta sepakat memberikan nama Gedung Raden Mas Sundoro,” ujar Lukmadi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (17/3/2026).
Suasana peresmian terasa sangat sakral. Seluruh jajaran Pemdes Pagerjo, BPD, tokoh adat, hingga kelompok pemuda hadir dengan mengenakan busana adat Jawa lengkap (beskap dan lurik), mempertegas identitas budaya yang ingin diangkat.
Ketua Yayasan Vasatii Socaning Lokika sekaligus perwakilan Trah Sultan HB II, Fajar Bagoes Poetranto, mengungkapkan bahwa penamaan gedung ini merupakan langkah strategis. Selain menghidupkan sejarah kelahiran Sultan HB II di Pagerotan, hal ini menjadi syarat administratif pendukung pengusulan beliau sebagai Pahlawan Nasional.
Awalnya, warga sempat mengusulkan perubahan nama Jalan Candiyasan-Keseneng menjadi Jalan RM Sundoro. Namun, karena proses legislasi di DPRD Kabupaten Wonosobo masih berjalan dan terbentur peraturan daerah (Perda), penamaan gedung menjadi solusi yang konkret.
“Pengusulan jalan sepanjang kurang lebih 5 km di lereng Gunung Sindoro tersebut merupakan inisiatif warga setempat bersama perwakilan Trah HB II guna mempercepat pengakuan resmi secara hukum,” jelas Fajar.
Ia menambahkan, “Pemberian nama gedung RM Sundoro ini sekaligus melengkapi dan menjadi syarat pengusulan Pahlawan Nasional menggantikan nama jalan yang sampai saat ini terbentur Perda yang ada.”
Gedung yang didominasi warna hijau ini kini berdiri kokoh sebagai simbol kebanggaan warga Pagerjo. Harapannya, bangunan tersebut tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi menjadi ruang hidup bagi aktivitas kreatif warga.
“Gedung yang kini bernama RM Sundoro tersebut berdiri kokoh dengan dominasi warna hijau. Dengan adanya identitas baru ini, pemerintah desa berharap gedung tersebut tidak hanya menjadi tempat pertemuan formal, tetapi juga pusat pelestarian seni dan budaya yang mampu menyatukan seluruh warga Pagerjo,” pungkas Fajar.
Dengan adanya ikon baru ini, generasi muda di Desa Pagerjo diharapkan lebih mengenal akar sejarahnya sendiri, sekaligus memperkuat posisi Wonosobo sebagai wilayah yang kaya akan warisan budaya Nusantara.
Dari Desa | Membangun Kampung Halaman

