Nasional – Presiden Prabowo Subianto menjelaskan tujuan awal pembentukan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih adalah untuk menghilangkan praktik rentenir yang selama ini kerap menyulitkan para petani.
“Khusus untuk Koperasi Desa Merah Putih ini, saya ingin jelaskan sedikit. Niatnya tadi adalah untuk menghilangkan rentenir. Rentenir itu hidupnya adalah dengan mengisap darahnya petani kita. Dengan bunga 1 persen sehari, tidak mungkin petani produsen kita bangkit,” ungkap Prabowo Subianto, dikutip daridesa.com dari Kompas.com (20/07/2026), dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Setelah program ini berjalan, Prabowo mengungkapkan temuan tak terduga, yakni Kopdes ternyata mampu memangkas rantai pasok perdagangan bahan pokok sekaligus menghemat anggaran hingga ratusan triliun rupiah. Sebelumnya, petani harus melewati banyak tahapan distribusi mulai dari pengepul, distributor, subdistributor, grosir, hingga retail sebelum barang sampai ke konsumen.
“Dengan Koperasi Merah Putih, KDMP, marginnya kurang lebih 5 sampai 10 persen. Saya kira koperasi ambil 5 persen sudah cukup. Berarti sisanya bisa dinikmati petani dan konsumen. Ini adalah keamanan ekonomi jangka panjang,” ujarnya.
Prabowo menyampaikan, saat ini sudah ada 1.000 unit Kopdes Merah Putih yang mulai beroperasi, dengan target pembentukan mencapai 30.000 unit dalam waktu dekat, hingga akhirnya menyasar 81.000 unit di seluruh desa dan kelurahan se-Indonesia.
Ia mengakui operasional Kopdes belum sepenuhnya sempurna mengingat program ini baru berjalan sekitar 1,5 bulan. “Tentunya baru 1,5 bulan beroperasi banyak kekurangan. Ada yang belum listriknya belum baik, ada yang airnya belum baik, ada yang belum dapat internet, dan sebagainya,” katanya.
Sebagai langkah awal sebelum pembentukan koperasi, pemerintah sempat mengambil kebijakan penghapusan utang bagi jutaan petani yang dinilai sudah tidak mampu melunasi pinjaman, akibat terjerat bunga tinggi dari rentenir selama masa tunggu panen yang biasanya berlangsung sekitar 100 hari.
Prabowo menegaskan, gagasan Koperasi Merah Putih sebenarnya sudah lama ada di benaknya, sejak puluhan tahun lalu ketika ia masih bertugas sebagai prajurit TNI dan langsung menyaksikan kondisi masyarakat desa yang hidup dalam kemiskinan akibat jeratan utang berbunga tinggi.

