Ruang Warga

Bukan Sekadar Nama, Lemahabang Menyimpan Jejak Perjuangan yang Mulai Terlupakan

Sumber: (Dok. Istimewa)
Sumber: (Dok. Istimewa)

Bekasi, Jawa Barat – Lemahabang bukan sekadar nama kawasan. Di balik nama tersebut terdapat jejak perjuangan dan pertempuran yang menurut penelusuran Ending Hasanudin masih tersimpan dalam arsip, foto, peta lama, hingga makam para pejuang.

Persoalan yang kemudian muncul adalah sederhana tetapi penting: jika sejarah lokal tidak terus diceritakan, siapa yang akan mengingatnya?

Pertanyaan itu disampaikan Ending Hasanudin saat menjadi pembina upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di SDN Simpangan 05, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Senin (17/8/2026).

Dalam pidatonya, Ending mengungkapkan telah meneliti sejarah Lemahabang selama sekitar 11 tahun, sejak 18 Agustus 2008 hingga 12 Maret 2019. Penelusuran tersebut bahkan membawanya ke Belanda untuk mencari arsip dan dokumentasi mengenai Lemahabang.

“Saya meneliti selama 11 tahun. Dari 18 Agustus 2008 sampai 12 Maret 2019, saya sampai ke Negeri Belanda,” ujar Ending.

Membangun Negara Tidak Cukup dengan Keberanian, tetapi Harus dengan Perencanaan

Menurut Ending, dalam penelusurannya ia menemukan sejumlah dokumen, termasuk enam peta lama, foto, serta dokumentasi mengenai Lemahabang yang berasal dari Universitas Leiden.

Ia menilai temuan tersebut menunjukkan bahwa Lemahabang memiliki sejarah yang penting untuk dikenalkan kembali, terutama kepada generasi muda yang semakin jauh dari cerita perjuangan di wilayah tempat mereka tinggal.

Jejak Pertempuran di Lemahabang

Ending menyebut Lemahabang pernah menjadi lokasi berbagai peristiwa perjuangan pada masa mempertahankan kemerdekaan. Salah satu penanda yang menurutnya penting adalah keberadaan Taman Makam Pahlawan di kawasan tersebut.

“Di Kabupaten Bekasi ada 23 kecamatan, hanya Lemahabang yang memiliki Taman Makam Pahlawan,” katanya.

Mengenal Ikhsan Kamil: Dari Penggerak Pemuda Desa Raharja hingga Vokal Mengkritik Pemda Purwakarta

Bagi Ending, keberadaan makam tersebut bukan sekadar fasilitas pemakaman. Ia melihatnya sebagai salah satu petunjuk bahwa pernah terjadi peristiwa perjuangan di kawasan Lemahabang yang layak ditelusuri dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia juga menyebut sejumlah nama dan lokasi yang menurut hasil penelitiannya berkaitan dengan perjuangan di Lemahabang. Mohammad Toha, misalnya, disebut gugur setelah terkena bom di sekitar Kali Cibeureum.

Nama lain yang disebut adalah Gunadil yang menurut Ending gugur di depan SDN Simpangan 01. Ia juga mengungkap keberadaan Laskar Klender yang disebut mengalami serangan bom di sekitar Gang Asem hingga menewaskan sekitar enam orang.

Selain itu, Ending menyebut jejak Laskar Rakyat di sekitar Haji Baedah dan Laskar Hizbullah yang menurut penelusurannya pernah berada di sekitar kawasan yang kini menjadi Rumah Sakit Anisa.

Ia juga menunjukkan dokumentasi Stasiun Lemahabang yang menurutnya pernah menjadi sasaran bombardir.

Bencana Pergeseran Tanah Hancurkan Perpustakaan Desa di Pasanggrahan, Pelayanan Lumpuh Total

Ketika Arsip Harus Dicari Jauh dari Rumah

Cerita tersebut menyisakan persoalan yang lebih besar. Mengapa sejarah sebuah kawasan harus ditelusuri begitu jauh untuk kembali dikenali oleh masyarakat yang tinggal di dalamnya?

Ending mengaku harus melakukan penelitian bertahun-tahun, termasuk mencari sumber hingga ke Belanda. Peta dan foto lama yang ditemukannya kemudian menjadi bagian dari upayanya menyusun kembali potongan sejarah Lemahabang.

Di sinilah persoalan pelestarian sejarah lokal menjadi penting. Sejarah tidak hanya berada di buku pelajaran nasional. Ia juga hidup di nama jalan, stasiun, sekolah, makam, sungai, bangunan lama, dan cerita keluarga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jika semua itu tidak dirawat, pembangunan dan perubahan wilayah bukan hanya mengubah wajah sebuah daerah, tetapi juga berpotensi menghapus ingatan tentang asal-usulnya.

Bagi Ending, masyarakat Lemahabang patut mengenal dan bangga terhadap sejarah daerahnya.

“Kita harus bangga sebagai pribumi Lemahabang,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi relevan pada momentum kemerdekaan. Merayakan 17 Agustus bukan hanya mengibarkan bendera dan mengenang perjuangan secara nasional. Ada sejarah yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat dan perlu diselamatkan sebelum hanya tersisa dalam arsip lama.

Lemahabang mungkin terus berubah. Tetapi perubahan seharusnya tidak membuat masyarakat kehilangan ingatan tentang siapa mereka dan dari mana sejarah perjuangan daerahnya bermula.

Penulis: Anomia

Dari Desa | Membaca Kampung Halaman