Purwakarta, Jawa Barat – Komunitas literasi Teras Baca digagas oleh seorang pemuda bernama Ade Setia Lesmana sebagai upaya membangkitkan semangat literasi anak-anak di kampung halamannya, Desa Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta. Desa yang berada di antara hamparan sawah dan hijaunya perbukitan di ujung wilayah Kabupaten Purwakarta itu menjadi saksi lahirnya gerakan literasi yang kini memberi dampak nyata bagi masyarakat. Selasa (21/07/2026).
Berbekal kepedulian terhadap pembangunan desanya, Ade mengaku kerap merasa prihatin melihat anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dibandingkan membaca buku. Dari keresahan tersebut, muncul keinginan untuk menumbuhkan kembali budaya literasi di desanya.
Menurut Ade, literasi merupakan salah satu kunci utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong pembangunan desa.
“Kami memulai gerakan literasi di Desa Kiarapedes sejak tahun 2020 dan mendapatkan SK dari pemerintah desa pada tahun 2021,” ujar Ade kepada daridesa.com
Teras Baca bukan sekadar komunitas biasa, melainkan ruang terbuka yang ramah dan nyaman bagi siapa saja untuk membaca, belajar, serta berdiskusi. Bersama teman-temannya, Ade menyulap ruang tamu dan teras rumahnya menjadi perpustakaan sederhana dengan rak buku, tikar, dan tanaman hias yang menciptakan suasana asri dan kekeluargaan sehingga menarik minat masyarakat untuk berkunjung.
Pada awal berdirinya, koleksi buku Teras Baca masih sangat terbatas. Sebagian besar buku diperoleh dari teman-teman komunitas, keluarga, serta dukungan dari Kopel Studio.
“Awalnya buku-buku itu didapatkan dari teman-teman komunitas dan keluarga. Namun sekarang semakin banyak orang yang tergerak untuk menyumbangkan buku dan bergabung dengan komunitas Teras Baca. Kopel Studio adalah salah satu pihak yang sering mendukung kami,” tambahnya.

Kegiatan Literasi di Teras Baca Generasi Bahagia Desa Kiarapedes. (foto: ist)
Kegiatan Teras Baca pun tidak hanya berfokus pada aktivitas membaca. Beragam program edukatif diselenggarakan untuk meningkatkan minat belajar masyarakat, di antaranya kelas menulis, kelas tari, kelas Bahasa Inggris, kelas Bahasa Sunda, kelas public speaking, diskusi buku, pemutaran film edukasi, pelatihan dasar komputer, hingga berbagai kegiatan lain yang bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
Tak hanya anak-anak, orang dewasa juga aktif mengikuti berbagai kegiatan tersebut. Teras Baca menjadi wadah bagi masyarakat untuk saling belajar, berbagi pengetahuan, sekaligus mempererat hubungan antarwarga.
Melalui program Teras Project, komunitas ini juga turut mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Kiarapedes. Dalam program tersebut, Ade mengelompokkan anggota Teras Baca sesuai minat dan kemampuan masing-masing agar dapat berkembang secara lebih terarah.
“Contohnya kelompok pemuda tani yang dibentuk dalam Teras Project. Melalui berbagai pelatihan peningkatan kapasitas, pemasaran, kerja sama dengan berbagai pihak, hingga advokasi untuk mendapatkan lahan warga yang tidak digarap, kini mereka sudah mampu mandiri bahkan telah memiliki karyawan,” jelas Ade.
Selain kelompok tani, Teras Project juga melahirkan kelompok tari dan kelompok fotografi yang kini mampu menghasilkan pendapatan dari berbagai kegiatan dan penampilan yang mereka ikuti.
Berbagai upaya yang dilakukan Ade bersama rekan-rekannya membuahkan hasil yang membanggakan. Pada tahun 2022, Teras Baca meraih penghargaan sebagai Perpustakaan Terbaik Tingkat Provinsi. Setahun kemudian, pada 2023, Teras Baca berhasil meraih Juara I Nasional dalam lomba video vlog literasi yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional dan memperoleh bantuan berupa Tugu Baca.
Ade juga pernah diundang menjadi pembicara dalam forum pegiat literasi tingkat nasional.
“Kami pernah menjadi pembicara dalam forum perpustakaan tingkat nasional di Surabaya pada Desember 2023 sebagai pegiat literasi,” ungkapnya.
Kini, gerakan literasi yang dipelopori Teras Baca mulai meluas ke desa-desa sekitar melalui program Tepar Literasi (Teras Ngampar Literasi). Dalam program tersebut, Ade bersama tim mengunjungi desa-desa lain untuk berdiskusi dengan para pemuda, menumbuhkan budaya literasi, sekaligus mendampingi pembentukan perpustakaan desa.
“Alhamdulillah, berkat dukungan berbagai pihak, hingga saat ini kami telah membantu membentuk empat perpustakaan desa,” katanya.
Meski demikian, Ade menilai pengembangan budaya literasi di pedesaan membutuhkan dukungan lebih besar dari pemerintah daerah agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.
“Ayo pemerintah turun ke desa-desa, lihat potensi yang ada dan apa saja yang dibutuhkan masyarakat untuk meningkatkan pembangunan desa melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia lewat kegiatan literasi,” tandasnya.
Ade berharap Teras Baca tidak hanya menghadirkan lebih banyak buku di tangan anak-anak desa, tetapi juga mampu menciptakan perubahan nyata dalam pola pikir dan kualitas hidup masyarakat. Ia meyakini bahwa literasi yang kuat akan melahirkan masyarakat desa yang mandiri, berdaya saing, serta mampu berperan aktif dalam pembangunan Kabupaten Purwakarta di masa depan.

