Ruang Warga

Bencana Pergeseran Tanah Hancurkan Perpustakaan Desa di Pasanggrahan, Pelayanan Lumpuh Total

Kondisi luar perpustakaan: Fasad bangunan hijau-krem retak parah. Halaman depan berantakan dengan puing dan pagar tanah di sisi kanan jebol.
Kondisi luar perpustakaan: Fasad bangunan hijau-krem retak parah. Halaman depan berantakan dengan puing dan pagar tanah di sisi kanan jebol. (dok. Istimewa)

Purwakarta, Jawa Barat — Bencana pergeseran tanah yang terjadi pada 1 Februari 2026 pukul 03.00 dini hari akibat tingginya curah hujan telah melumpuhkan aktivitas pelayanan di perpustakaan desa. Kerusakan pada bangunan ini diperkirakan mencapai 75%.

Struktur bangunan terpantau mengalami kemiringan, lantai hancur dan terbelah oleh urat pergeseran tanah, serta sebagian plafon runtuh. Kerusakan tersebut meliputi ruang kegiatan utama dan ruangan penyimpanan komputer. Akibat kondisi ini, seluruh kegiatan pelayanan umum maupun aktivitas anak-anak di desa dihentikan total karena dikhawatirkan bangunan ambruk. Kegiatan tercatat sudah berhenti total selama 6 bulan.

Kondisi perpustakaan pasca pergeseran tanah: Lantai keramik di dekat pintu masuk hancur dan terbelah, membuat bangunan tidak aman untuk kegiatan.

Kondisi perpustakaan pasca pergeseran tanah: Lantai keramik di dekat pintu masuk hancur dan terbelah, membuat bangunan tidak aman untuk kegiatan. (dok. Istimewa)

Semangat Literasi dan Inisiatif Pojok Baca

Kendati demikian, para pengelola menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak menjadi halangan untuk tetap mencerdaskan anak-anak di desa. Untuk menyiasatinya, mereka membuat pojok baca yang sederhana di setiap dusun agar buku-buku bacaan tetap bisa digunakan oleh masyarakat meskipun pelayanan umum di gedung utama terhenti sementara waktu sampai bangunan kembali aman.

Pembuatan pojok baca sederhana ini dikoordinasikan dalam satu posyandu per dusun yang mampu menampung sekitar 50 buku bacaan.

Pernyataan Pengelola

Terkait kondisi ini, pengelola TBM, Kang Romli, memberikan pernyataan:

Ken Alena Rachman, Penyanyi Cilik Purwakarta yang Harumkan Nama Daerah di Tingkat Provinsi

“Meskipun bangunan perpustakaan mengalami kerusakan parah dan kegiatan di ruang utama lumpuh total sejak enam bulan lalu, semangat kami untuk terus mencerdaskan anak-anak di desa tidak boleh padam,” ujar Kang Romli.

Ia menambahkan bahwa inisiatif pojok baca terpaksa dilakukan agar buku tetap bisa dimanfaatkan.

“Kami berharap ada perhatian dan bantuan mendesak dari pemerintah daerah maupun desa untuk rehabilitasi bangunan ini, mengingat perpustakaan adalah satu-satunya tempat berkreativitas dan kegiatan anak-anak di desa,” pungkasnya.

Dampak Sosial dan Harapan Warga

Dampak dari penghentian ini membuat anak-anak kehilangan ruang berkarya yang biasanya rutin berkumpul setiap hari Minggu. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa anak-anak akan semakin malas mengisi hari libur. Para warga juga mengeluhkan anak-anak menjadi lebih sering bermain gawai (handphone) di hari libur sekolah, berbeda dari kondisi sebelumnya saat perpustakaan belum terkena musibah pergeseran tanah.

Bantuan mendesak yang dibutuhkan saat ini adalah rehabilitasi bangunan. Mengingat bahan bangunan awal menggunakan bata, dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika kegiatan dipaksakan di dalam ruangan tersebut. Hingga saat ini, belum ada perhatian dari pihak pemerintah daerah maupun desa, sehingga warga berharap segera ada titik terang untuk rehabilitasi bangunan perpustakaan agar tempat berkreasi anak-anak di desa dapat segera diperbaiki dan digunakan kembali.

Budaya Sadar Hukum Dimulai dari Desa, Kejari Purwakarta Perkuat Edukasi Masyarakat

Berita Dari Desa | Membangun kampung Halaman