Purwakarta, Jawa Barat — Komunitas Pena dan Lensa (KOPEL) menggelar Awarding Festival Pena dan Lensa 2026 yang dirangkaikan dengan Talkshow Kepemudaan bertajuk “Karsa Pemuda di Persimpangan Zaman”, Sabtu (24/10/2026), di Bale Sawala Yudistira, Kabupaten Purwakarta. Kegiatan ini juga menghadirkan pameran karya, pertunjukan musik, tari, serta teater sebagai ruang ekspresi dan apresiasi kreativitas generasi muda.

Foto bersama: para pengurus KOPEL, panitia dan beberapa peserta Festival Pena dan Lensa 2026 di depan Gedung Yudhistira Purwakarta. Dok. KOPEL
Festival tersebut menjadi wadah pertemuan gagasan, kreativitas, dan refleksi bagi anak muda untuk memahami tantangan zaman sekaligus memperkuat peran mereka dalam kehidupan sosial, kebudayaan, dan pembangunan daerah.
Kegiatan ini dihadiri oleh Asisten Daerah (Asda) I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Kepala Bidang Kepemudaan Disporaparbud, Kepala Bidang Pembinaan Pelestarian dan Pengembangan Kearsipan Disarpus, Owner Sora Music School, Owner Media Intiporia, Ketua Ekonomi Kreatif (Ekraf) Purwakarta, serta para pelajar dan mahasiswa dari berbagai wilayah di Kabupaten Purwakarta.
Kehadiran unsur pemerintah, pelaku industri kreatif, komunitas, dan kalangan akademisi tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan berbagai elemen dalam membangun ekosistem kepemudaan dan kreativitas yang lebih kolaboratif di Purwakarta.
Salah satu agenda utama dalam festival ini adalah Talkshow Kepemudaan yang menghadirkan Shela Amelia, S.Pd., aktivis perempuan Purwakarta; Hadi Albulaqi, Founder KOPEL; Tanissa Putri Rahmadiya, Founder Bumi Kreasi Jatiluhur sekaligus penerima penghargaan *The Most Social Impact* dari UNDP Indonesia dan *Climate Skills* dari British Council; serta Zusyef Gusnawan, S.E., anggota DPRD Purwakarta yang terlibat dalam Panitia Khusus (Pansus) Kebudayaan.
Diskusi tersebut mengangkat pentingnya keberanian generasi muda dalam menentukan arah, menyampaikan gagasan, dan mengambil bagian dalam menjawab persoalan sosial. Di tengah perubahan teknologi, derasnya arus informasi, dan dinamika kehidupan masyarakat, pemuda dituntut tidak hanya menjadi penerima perubahan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari solusi.
Koordinator Umum KOPEL, Rangga Maulana, menekankan bahwa karsa merupakan daya cipta, kehendak, dan dorongan untuk mewujudkan gagasan menjadi tindakan nyata.
Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya memiliki semangat dan pemikiran kritis. Lebih dari itu, diperlukan keberanian mengambil keputusan, konsistensi dalam bergerak, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.
“Pemuda hari ini dihadapkan pada banyak pilihan dan tantangan. Karena itu, kita tidak boleh berhenti pada gagasan atau sekadar menjadi penonton perubahan. Kita harus berani mengambil peran, membangun kolaborasi, dan memastikan bahwa apa yang kita lakukan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Rangga.
Tema “Karsa Pemuda di Persimpangan Zaman” dipilih untuk merefleksikan posisi generasi muda di tengah berbagai perubahan. Persimpangan tersebut bukan sekadar pilihan arah, melainkan momentum bagi pemuda untuk menentukan nilai, sikap, dan kontribusi yang ingin diwujudkan bagi masa depan.
Selain diskusi, Festival Pena dan Lensa menghadirkan berbagai pertunjukan seni sebagai bentuk apresiasi terhadap potensi dan kreativitas generasi muda.
Penampilan solo musik dari Sora Music School menghadirkan ekspresi musikal yang memperkaya suasana festival. Sementara itu, pertunjukan tari dari Sundara Gatra dan Dangiang Padjajaran turut memperlihatkan kekayaan ekspresi seni dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Festival ini juga menghadirkan pameran karya Pena dan Lensa yang menjadi ruang apresiasi bagi kreativitas peserta dalam bidang literasi, jurnalistik, fotografi, sinematografi, dan desain grafis. Pameran tersebut sekaligus mempertemukan karya dengan publik, sehingga gagasan yang lahir dari proses kreatif anak muda dapat dikenal dan diapresiasi secara lebih luas.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan pertunjukan teater KOPEL berjudul *“Rumaksa”*. Kehadiran pertunjukan ini menjadi penutup yang menegaskan bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium penyampaian gagasan, refleksi sosial, dan pembacaan terhadap realitas kehidupan.
Perpaduan talkshow, pameran karya, musik, tari, dan teater menjadikan festival ini sebagai ruang perjumpaan lintas disiplin. Melalui pendekatan tersebut, KOPEL berupaya menghadirkan ruang kreatif yang tidak hanya berorientasi pada penampilan, tetapi juga mendorong pertukaran pemikiran dan tumbuhnya kesadaran sosial.
Melalui penyelenggaraan Festival Pena dan Lensa 2026, KOPEL berharap tercipta ruang yang semakin terbuka bagi pelajar, mahasiswa, komunitas, dan pelaku industri kreatif untuk saling terhubung, berkolaborasi, serta mengembangkan potensi yang dimiliki.
Festival ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada kebijakan dan program pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif masyarakat, termasuk generasi muda yang memiliki gagasan, kreativitas, dan keberanian untuk bertindak.
Bagi KOPEL, keberadaan ruang ekspresi seperti ini menjadi penting agar kreativitas anak muda tidak berhenti sebagai aktivitas komunitas semata, tetapi dapat berkembang menjadi gerakan yang memberikan kontribusi bagi kehidupan sosial dan kebudayaan Purwakarta.
Pada akhirnya, di tengah persimpangan zaman, masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar gagasan yang dimiliki generasi muda, tetapi juga oleh keberanian untuk memulai, kesediaan untuk bekerja bersama, dan konsistensi dalam mewujudkan perubahan.
Melalui Festival Pena dan Lensa, KOPEL mengajak anak muda Purwakarta untuk tidak sekadar menyaksikan perubahan, melainkan mengambil peran dalam menentukan arah masa depan.

