Bekasi, Jawa Barat – Malam mulai turun di Cikarang. Arus kendaraan masih memenuhi jalan-jalan utama, mengantar ribuan pekerja pulang setelah seharian berada di balik mesin produksi. Di sudut lain kota, sekitar 20 orang memilih mengakhiri harinya dengan cara yang berbeda. Mereka menuju Ruang Rasa Cafe, Cikarang Selatan, Jumat (17/7), sambil membawa buku di dalam tas. Ada yang datang untuk membagikan cerita dari buku yang telah selesai dibaca, ada pula yang memilih menjadi pendengar. Meski tak banyak berbicara, mereka tetap pulang dengan membawa cerita baru dari buku-buku yang sebelumnya belum pernah mereka kenal.
Malam itu, Cikarang Book Party (CBP) menggelar CAKWE Baca: Balik Gawe, sebuah sesi silent reading dan sharing session yang mempertemukan para pencinta buku dari berbagai latar belakang. Sekitar 20 peserta yang akrab disebut Bookmates hadir dari beragam kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja di kawasan Cikarang, ibu rumah tangga, hingga pegiat literasi. Di atas meja, secangkir kopi berdampingan dengan buku-buku yang malam itu menjadi bahan percakapan. Suasananya hangat dan akrab.
Tidak ada daftar bacaan wajib, tidak ada moderator yang menentukan benar atau salahnya sebuah tafsir. Setiap peserta diberi kesempatan menceritakan buku yang sedang atau telah dibaca, lalu berbagi alasan mengapa buku tersebut layak dikenalkan kepada orang lain. Dari sastra, filsafat, sejarah, hingga pengembangan diri, setiap buku membuka jalan menuju percakapan tentang pengalaman hidup, keresahan, bahkan harapan yang mungkin dirasakan bersama.
Kegiatan diawali dengan sesi perkenalan antarpeserta untuk membangun kedekatan di antara para Bookmates. Setelah itu, peserta mengikuti sesi silent reading, sebuah momen membaca dalam keheningan yang menjadi ciri khas setiap pertemuan Cikarang Book Party. Suasana kemudian mencair melalui permainan bertema literasi sebelum berlanjut ke sesi berbagi pengalaman membaca. Dalam sesi inilah peserta saling bertukar rekomendasi buku, sudut pandang, hingga pengalaman hidup yang terhubung dengan bacaan masing-masing.
Salah seorang peserta mengatakan bahwa kegiatan seperti ini membuat membaca tidak lagi terasa sebagai aktivitas yang dilakukan sendirian.
“Kadang kita selesai membaca sebuah buku, tapi tidak punya teman untuk membicarakannya. Di sini, kita bukan hanya bertukar rekomendasi bacaan, tetapi juga bertukar sudut pandang.”
Percakapan yang terbangun tidak berhenti pada isi buku, melainkan merambat pada pengalaman hidup masing-masing peserta. Dari sanalah diskusi berkembang menjadi ruang saling belajar.
Menurut penyelenggara, CAKWE Baca: Balik Gawe dihadirkan untuk membangun semangat literasi sekaligus mempertemukan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama terhadap dunia membaca. Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa membaca tidak selalu harus dilakukan seorang diri. Ketika dilakukan bersama, membaca dapat membuka ruang percakapan, memperluas perspektif, sekaligus mempererat hubungan antarsesama pembaca.
Di tengah ritme Cikarang yang identik dengan kawasan industri, lembur, dan target pekerjaan, pertemuan sederhana seperti ini menghadirkan wajah kota yang kerap luput dari perhatian. Di sela padatnya aktivitas, masih ada orang-orang yang sengaja meluangkan waktu untuk duduk bersama, membuka halaman demi halaman, dan saling bertukar gagasan. Komunitas seperti Cikarang Book Party menunjukkan bahwa literasi tidak selalu tumbuh di ruang-ruang formal seperti sekolah atau perpustakaan. Ia juga hidup di meja-meja sebuah kedai kopi, ketika orang-orang bersedia saling mendengarkan dan belajar dari pengalaman membaca satu sama lain.
Tema “Balik Gawe” terasa begitu dekat dengan keseharian masyarakat Cikarang. Selepas bekerja, para peserta tidak langsung memilih pulang untuk beristirahat, melainkan menyempatkan diri berkumpul, berbincang, dan merawat kebiasaan membaca. Bagi sebagian orang, membaca menjadi cara untuk beristirahat dari rutinitas, sementara berdiskusi menjadi cara untuk menemukan perspektif baru. Di kota yang lebih sering dipersepsikan sebagai pusat industri, kebiasaan sederhana ini menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak hanya berputar di sekitar pekerjaan.
Cikarang Book Party berencana menjadikan kegiatan ini sebagai agenda rutin yang diselenggarakan setiap pekan, baik pada hari kerja maupun akhir pekan. Saat ini kegiatan dipusatkan di Ruang Rasa Cafe, meski begitu ke depan komunitas ini akan menggelar kegiatan serupa di berbagai wilayah Cikarang agar semakin banyak masyarakat yang dapat terlibat dalam ruang literasi bersama.
Barangkali inilah wajah lain Cikarang yang jarang mendapat sorotan. Kota ini tidak hanya dibangun oleh deretan pabrik yang beroperasi siang dan malam, tetapi juga oleh komunitas-komunitas kecil yang secara sukarela menciptakan ruang perjumpaan. Ruang tempat orang-orang bertemu tanpa mempersoalkan profesi atau latar belakang, tempat gagasan berpindah dari satu kepala ke kepala lain melalui buku, dan tempat membaca kembali menemukan maknanya sebagai aktivitas yang menghubungkan manusia.
Di tengah hiruk-pikuk kawasan industri, CAKWE Baca: Balik Gawe menjadi pengingat bahwa sebuah kota tidak hanya membutuhkan ruang untuk bekerja, tetapi juga ruang untuk berpikir, berdialog, dan saling mendengarkan. Sebab, kota yang hidup bukan hanya diukur dari banyaknya pabrik yang berdiri, melainkan juga dari banyaknya ruang yang membuat warganya tetap tumbuh sebagai manusia.
Penulis: Anm
Dari Desa | Membaca Kampung Halaman

